What goes around comes around

September 13th, 2007 by cornell

Bryan
hampir saja tidak melihat wanita tua yang berdiri dipinggir jalan itu,
tetapi dalam cahaya berkabut ia dapat melihat bahwa wanita tua itu
membutuhkan pertolongan. Lalu ia menghentikan mobil Pontiac tuanya di
depan mobil Mecedes wanita tua itu, lalu ia keluar dan menghampirinya.


Walaupun
dengan wajah tersenyum wanita itu tetap merasa khawatir, karena setelah menunggu beberapa jam tidak ada seorang pun yang berhenti untuk
menolongnya.


Apakah lelaki  itu bermaksud menyakitinya?


Lelaki
tersebut penampilanya tidak terlalu baik, ia kelihatan begitu
memprihatinkan. Wanita itu dapat merasakan kalau dirinya begitu
ketakutan, berdiri sendirian dalam cuaca yang begitu dingin, sepertinya
lelaki tersebut tau apa yang ia pikirkan.


Lelaki
itu berkata "Saya kemari untuk membantu anda Bu, kenapa anda tidak menunggu didalam mobil. Bukankah disana lebih hangat? Oh ya, nama saya
Bryan."


Bryan  masuk kedalam kolong mobil wanita itu untuk memperbaiki yang  rusak.


Akhirnya
ia selesai, tetapi dia kelihatan begitu kotor dan lelah, wanita itu
membuka kaca jendela mobilnya dan berbicara kepadanya. Ia berkata bahwa
ia dari St Louis dan kebetulan lewat jalan ini. Dia merasa tidak cukup
kalau hanya mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan.


Wanita
itu bertanya berapa yang harus ia bayar, berapapun jumlahnya yang ia
minta tidak menjadi masalah, karena ia membayangkan apa yang akan
terjadi jika lelaki itu tidak menolongnya. Bryan hanya tersenyum.


Bryan tidak mengatakan berapa jumlah yang harus dibayar, karena baginya
menolong orang bukanlah suatu pekerjaan. Ia yakin apabila menolong
seseorang yang membutuhkan pertolongan tanpa suatu imbalan, suatu hari
nanti Tuhan pasti akan membalas amal perbuatanya.


Ia
berkata kepada wanita itu, "Bila Ibu benar-benar ingin membalas jasa
saya, maka apabila suatu hari nanti Ibu melihat seseorang yang
membutuhkan pertolongan, tolonglah orang tersebut… dan ingatlah saya."
 

Bryan  menunggu sampai wanita itu menstater mobilnya dan menghilang dari pandangan.


Setelah
berjalan beberapa mil wanita itu melihat kafe kecil, lalu ia mampir
kesana untuk makan dan beristirahat sebentar. Pelayan datang dan
memberikan handuk bersih untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
Wanita itu memperhatikan sang pelayan yang sedang hamil, dan masih
begitu muda. Lalu ia teringat kepada Bryan.


Setelah
wanita itu selesai makan dan sang pelayan sedang mengambil kembalian untuknya, wanita itu pergi keluar secara diam-diam.
 

Setelah
kepergiannya sang pelayan kembali, pelayan itu bingung kemana wanita
itu pergi, lalu ia menemukan secarik kertas diatas meja dan uang
$1.000,-


Ia begitu  terharu setelah membaca apa yang ditulis oleh wanita itu:


"Kamu
tidak berhutang apapun pada saya karena seseorang telah menolong saya,
oleh karena itulah saya menolong kamu. Maka inilah yang harus kamu
lakukan: Jangan pernah berhenti untuk memberikan cinta dan kasih
sayang."


Malam
ketika ia pulang dan pergi tidur, ia berfikir mengenai uang dan apa
yang ditulis oleh wanita itu. Bagaimana wanita itu bisa tahu kalau ia
dan suaminya sangat membutuhkan uang untuk menanti kelahiran bayinya?


Ia
tau bagaimana suaminya sangat merisaukan hal ini. Lalu ia memeluk
suaminya yang terbaring disebelahnya dan memberikan ciuman yang lembut
sambil berbisik: "Semuanya akan baik-baik saja sayang, I Love You
Bryan."
 

"Segala sesuatu  yang berputar akan selalu berputar", therefore, never ever stop doing good  things in life!

Management Story

September 12th, 2007 by cornell
Story # 1 

It’s
a fine sunny day in the forest and a lion is sitting outside his cave,
lying lazily in the sun. Along comes a fox, out on a walk. 

Fox: "Do  you know the time, because my watch is broken." 
Lion: "Oh, I can  easily fix the watch for you." 
Fox: "Hmm… But it’s a very   complicated mechanism, and your big claws will only destroy it  even more." 
Lion: "Oh no, give it to me, and it will be  fixed." 
Fox: "That’s ridiculous! Any fool  knows that lazy lions  with great claws cannot fix complicated watches." 
Lion: "Sure  they do, give it to me and it will be fixed." 

The
lion disappears into his cave, and after a while he comes back with the
watch which is running perfectly. The fox is impressed, and the lion
continues to lie lazily in the sun, looking very pleased with himself.

Soon a wolf comes along and stops to watch  the  lazy lion in the sun. 

Wolf: "Can I come and watch  TV tonight with you, because mine is broken."
Lion: "Oh, I  can easily fix your TV for you." 
Wolf:
"You don’t expect me to believe such rubbish, do you? There is no way
that a lazy lion with big claws can fix a complicated TV." 
Lion: "No  problem. Do you want to  try it?"   

The
lion goes into his cave, and after a while comes back with a perfectly
fixed TV. The wolf goes away happily and amazed.      
   

Scene  : 
Inside
the lion’s cave. In one corner are half a dozen small and intelligent
looking rabbits who are busily doing very complicated work with very
detailed instruments. In the other corner lies a huge lion looking very
pleased with himself.

Moral of the story  : 
IF YOU WANT TO KNOW WHY A   MANAGER IS FAMOUS; LOOK AT THE WORK OF HIS SUBORDINATES.

   
   
Story # 2  

It’s
a fine sunny day in the forest and a rabbit is sitting outside his
burrow, tippy-tapping on his typewriter. Along comes a fox, out for a
walk.

Fox: "What are you working  on?" 
Rabbit: "My thesis." 
Fox: "Hmm… What is it  about?" 
Rabbit: "Oh, I’m writing about how  rabbits eat  foxes." 

Fox: "That’s  ridiculous ! Any fool  knows that rabbits don’t eat foxes!" 
Rabbit: "Come with me and I’ll  show  you!"   

They
both disappear into the rabbit’s burrow. After few minutes, gnawing on
a fox bone, the rabbit returns to his typewriter and resumes typing.

Soon a wolf comes along and  stops to watch the hardworking rabbit. 

Wolf: "What’s that you are writing?"   
Rabbit: "I’m doing a thesis on how rabbits eat wolves."   
Wolf: "you don’t expect to get such  rubbish  published, do you?"
Rabbit: "No problem. Do you  want to see why?" 

The
rabbit and the wolf go into the burrow and again the rabbit returns by
himself, after a few minutes, and goes back to typing. 

Finally a bear comes along and asks, "What  are you  doing? 
Rabbit: "I’m doing a thesis on  how rabbits eat bears." 
Bear: "Well that’s  absurd!" 
Rabbit: "Come  into my home and I’ll show  you" 
   

Scene  :
As they enter the burrow, the  rabbit introduces the bear to the lion. 
   

Moral of the story :   
IT DOESN’T MATTER HOW SILLY YOUR  THESIS TOPIC IS; WHAT MATTERS IS WHOM YOU HAVE AS A  SUPERVISOR. 
   
   

Management Lesson
In the context of the working world:   
IT DOESN’T MATTER HOW BAD YOUR  PERFORMANCE IS; WHAT MATTERS IS WHETHER YOUR BOSS LIKES YOU OR   NOT. 

Daily Rules from God

September 11th, 2007 by cornell

1. Wake Up!! Decide to have a good day. "Today is the day the Lord hath made; let us rejoice and be glad in it." Psalms 118:24

2. Dress Up!! The best way to dress up is to put on a smile. A smile is an inexpensive way to improve your looks. "The Lord does not look at the things man looks at. Man looks at outward appearance; but the Lord looks at the heart." I Samuel 16:7

3. Shut Up!! Say nice things and learn to listen. God gave us two ears and one mouth, so He must have meant for us to do twice as much listening as talking. "He who guards his lips guards his soul." Proverbs 13:3


4 . Stand Up!!…
For what you believe in. Stand for something or you will fall for anything.. "Let us not be weary in doing good; for at the proper time, we will reap a harvest if we do not give up. Therefore, as we have opportunity, let us do good…" Galatians 6:9-10

5 . Look Up!!… To the Lord.
"I can do everything through Christ who strengthens me."
Phillippians 4:13

6 . Reach Up!!… For something higher. "Trust in the Lord with all your heart, and lean not unto your own understanding. In all your ways, acknowledge Him, And He will direct your path." Proverbs 3:5-6


7. Lift Up!!…
Your Prayers.
"Do not worry about anything; instead PRAY ABOUT EVERYTHING."
Philippians 4:6 

Pasangan dari Tuhan

May 2nd, 2007 by cornell

Bertahun-tahun yang lalu, Aku berdoa kepada Tuhan untuk memberikan pasangan hidup, "Engkau tidak memiliki pasangan karena engkau tidak memintanya", Tuhan menjawab. Tidak hanya Aku meminta kepada Tuhan, Aku menjelaskan kriteria pasangan yang kuinginkan. Aku menginginkan pasangan yang baik hati, lembut, mudah mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh pengertian, pintar, humoris, penuh perhatian. Aku bahkan memberikan kriteria pasangan tersebut secara fisik yang selama ini kuimpikan.

 


Sejalan dengan berlalunya waktu, Aku
menambahkan daftar kriteria yang kuinginkan dalam pasanganku.

Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hatiku, "Hamba-Ku, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan."
Aku bertanya, "Mengapa Tuhan?" dan Ia menjawab, "Karena Aku adalah Tuhan dan Aku adalah Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar."
Aku bertanya lagi, "Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat memperoleh apa yang aku pinta dari-Mu?"
Jawab Tuhan, "Aku akan menjelaskannya kepada-Mu, Adalah suatu ketidak adilan dan ketidak benaran bagi-Ku untuk memenuhi keinginanmu karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah
adil bagi-Ku untuk memberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih kasar, atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih
kejam, atau seseorang yang mudah mengampuni tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam, seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak…"

Kemudian Tuhan berkata kepadaku,

       

"Adalah lebih baik jika Aku memberikan kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari selama ini daripada
membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai
semuanya itu. Pasanganmu akan berasal dari tulangmu dan dagingmu, dan
engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu.

Pernikahan adalah seperti sekolah - suatu pendidikan jangka panjang. Pernikahan adalah tempat dimana engkau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanya bertujuan untuk
menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid. Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang yang dapat tumbuh bersamamu."

 

Kisah Ini untuk: yang sudah menikah, yang baru saja menikah, yang sedang mencari..

Menjadi Sebuah Pelita

April 10th, 2007 by cornell

Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita.

Orang buta itu terbahak berkata: "Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok."

Dengan lembut sahabatnya menjawab, "Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu."

Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta.

Dalam kagetnya, ia mengomel, "Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!"

Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.

Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta.

Kali ini si buta bertambah marah, "Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!"

Pejalan itu menukas, "Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu
sudah padam!"

Si buta tertegun..

Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, "Oh, maaf, sayalah yang ‘buta’, saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta."

Si buta tersipu menjawab, "Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya."

Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.

Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita. Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, "Maaf,
apakah pelita saya padam?"

Penabraknya menjawab, "Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama."

Senyap sejenak. secara berbarengan mereka bertanya, "Apakah Anda orang buta?"

Secara serempak pun mereka menjawab, "Iya," sembari meledak dalam tawa. Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.

Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta.

Timbul pikiran dalam benak orang ini, "Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka."

Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).

Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain,
tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan "pulang", ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati
karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.

Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang
peduli. Kadang, mereka memilih untuk "membuta" walaupun mereka bisa melihat.

Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita,
sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.

Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus
belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana.

Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.

Sudahkah
kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita.

Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.

Bila mata tanpa penghalang, hasilnya adalah penglihatan. Jika telinga tanpa penghalang, hasilnya adalah pendengaran. Hidung yang tanpa penghalang membuahkan penciuman. Fikiran yang tanpa penghalang hasilnya adalah kebijaksanaan.

Teman Yang Patut Dihindari

April 4th, 2007 by cornell
Setiap teman tidak diciptakan sama. Banyak teman yang mengisi kehidupan Anda tetapi ada beberapa yang sebaiknya tidak dijadikan teman. Ciri khas dari orang-orang yang dimaksud adalah mereka yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak peduli dengan orang lain termasuk Anda. Setiap orang memang tidak sempurna dan ada saatnya dimana kita lebih memikirkan diri sendiri dan terkadang kita merasa bersalah dengan sikap ini.
Yang jelas, sebuah persahabatan merupakan sebuah hubungan timbal balik. Bila salah satu teman tidak berhenti menceritakan dirinya sendiri dan menganggap dialah yang terbaik, sebaiknya pikir dua kali untuk menjadikannya sahabat atau sebaiknya Anda mencoret namanya dari daftar nama teman-teman dekat. Satu hal yang perlu diingat, sebelum menyortir daftar nama teman-teman dekat, tanyakan pada diri sendiri, apakah uraian di bawah ini cocok untuk Anda. Toh, Anda juga tidak mau bila ternyata teman Anda mencoret nama Anda dari daftar pertemanannya sesudah membaca uraian berikut ini.
1. Tukang mengeluh
Orang dengan tipe ini selalu mempunyai masalah dalam hidupnya. Biasanya yang menjadi problem baginya adalah masalah sehari-hari seperti atasan yang menurut dia terlalu menuntut, teman sekerja yang tidak tahu cara berbicara dengan sopan, dan lainnya. Dia juga merasa seakan-akan seisi dunia tidak menyukai dirinya. Memang betul, sebagai manusia kita pasti pernah mengeluh. Tapi kan, tidak berarti setiap saat harus mengeluh. Sementara orang yang termasuk tipe ini, baginya tiada hari tanpa keluhan.
2. Tuan/Nyonya Besar
Dia memperlakukan temannya seperti asisten atau pembantu yang selalu siap untuk disuruh-suruh. Satu hari dia meminta Anda mengerjakan pekerjaannya pada waktu dia bolos kerja, lain waktu dia meminta Anda untuk membayarkan tagihan kartu kreditnya ke bank atau menyuruh Anda membelikan makan siang untuknya. Atau bahkan menitipkan anaknya di rumah anda sementara dia berbelanja ke mal.
3. Sok paling sibuk
Dia adalah ketua POM (Persatuan Orang tua Murid) di sekolah anaknya, dia juga ketua RT di lingkungan rumahnya, dan dia juga seorang manajer pemasaran di kantornya. Dia merasa menjadi orang yang paling sibuk di dunia dan meremehkan Anda. Bila ada acara makan malam ataupun ulang tahun salah seorang teman, dia selalu datang terlambat dan sudah pasti dengan alasan yang klasik: kelewat sibuk. Dan dia seolah mau memperlihatkan kepada tuan rumah, di sela-sela kesibukannya, dia masih berusaha menyempatkan waktunya untuk datang.
4. Banyak Mulut
"Oh, untung telepon genggam saya berdering. Kalau tidak, bagaimana saya bisa melepaskan diri dari dia. Dia terus berbicara tidak ada habisnya." Dan, hanya dia yang terus bercerita dan tidak memberikan waktu kepada Anda untuk memberikan komentar apalagi berbicara. Orang yang termasuk tipe ini tidak peka dan tidak merasa kalau orang lain bosan mendengar ocehannya.
5. Penasihat Ulung
Ada saat-saat dimana kita membutuhkan seorang teman untuk curhat tetapi tidak seorang pun yang merasa senang bila dinasihati sepanjang hari. Dengan gayanya yang khas, tanpa diminta pun si teman ini akan memberi nasihat panjang lebar yang sebetulnya tak Anda perlukan.
6. Habis Manis Sepah Dibuang
Teman yang termasuk jenis ini hanya mau berkawan dengan Anda bila ada perlunya saja. Begitu dia sudah tidak memerlukan Anda, dia tinggalkan dan lupakan Anda dengan amat mudahnya. Misalnya, Anda dan teman-teman yang lain sudah membuat rencana yang matang satu minggu lebih awal untuk berpiknik keluar kota. Segala macam tetek-bengek dibicarakan, termasuk pengeluaran bensin dan makan yang dibagi sesuai dengan jumlah orang yang akan pergi, termasuk teman Anda yang satu ini. Tetapi tepat pada hari-H, di mana semua telah bersiap-siap akan berangkat, telepon genggam teman Anda berdering dan ternyata kekasihnya yang menelepon, mengajaknya menonton film. Tanpa berpikir panjang, dia meninggalkan Anda dan teman-teman yang lain begitu saja, tanpa ada perasaan bersalah.
7. Merasa yang Terhebat
Menurut dia, apa pun yang dilakukannya selalu lebih baik dari Anda. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengatakan kepada Anda bahwa perhiasannya adalah yang termahal di antara teman-teman sekantor. Dia akan mengatakan kepada Anda bahwa model baju Anda sudah tidak "in" sementara baju yang dipakainya adalah baju model mutakhir yang dibelinya di luar negeri baru-baru ini. Orang dengan tipe ini tidak menyadari, teman bukanlah saingan dan dia tidak menyadari arti sebuah persahabatan sejati.

tO foRgivE

April 2nd, 2007 by cornell

One day a while back, a man, his heart heavy with grief, was walking in the woods. As he thought about his life this day, he knew many things were not right. He thought about those who had lied about him back when he had a job. His thoughts turned to those who had stolen his things and cheated him. He remembered family that had passed on. His mind turned to the illness he had that no one could cure. His very soul was filled with anger, resentment and frustration.

Standing there this day, searching for answers he could not find, knowing all else had failed him, he knelt at the base of an old oak tree to seek the one he knew would always be there. And with tears in his eyes, he prayed: "Lord- You have done wonderful things for me in this life. You have told me to do many things for you, and I happily obeyed. Today, you have told me to forgive. I am sad, Lord, because I cannot. I don’t know how. It is not fair Lord. I didn’t deserve these wrongs that were done against me and I shouldn’t have to forgive. As perfect as your way is Lord, this one thing I cannot do, for I don’t know how to forgive. My anger is so deep Lord, I fear I may not hear you, but I pray that you teach me to do this one thing I cannot do - Teach me to forgive."

As he knelt there in the quiet shade of that old oak tree, he felt something fall onto his shoulder. He opened his eyes. Out of the corner of one eye, he saw something red on his shirt. He could not turn to see what it was because where the oak tree had been was a large square piece of wood in the ground. He raised his head and saw two feet held to the wood with a large spike through them. He raised his head more, and tears came to his eyes as he saw Jesus hanging on a cross. He saw spikes in His hands, a gash in His side, a torn and battered body, deep thorns sunk into His head.

Finally he saw the suffering and pain on His precious face. As their eyes met, the man’s tears turned to sobbing, and Jesus began to speak.

"Have you ever told a lie?" He asked? The man answered - "yes, Lord."
"Have you ever been given too much change and kept it?" The man answered - " yes. Lord."
And the man sobbed more and more.
"Have you ever taken something from work that wasn’t yours?" Jesus asked?
And the man answered - "yes, Lord."
"Have you ever sworn, using my Father’s name in vain?"
The man, crying now, answered - "yes, Lord."
As Jesus asked many more times, "Have you ever"?
The man’s crying became uncontrollable, for he could only answer - "yes, Lord."
Then Jesus turned His head from one side to the other, and the man felt something fall on his other shoulder. He looked and saw that it was the blood of Jesus. When he looked back up, his eyes met those of Jesus, and there was a look of love the man had never seen or known before. Jesus said, "I didn’t deserve this either, but I forgive you."

It may be hard to see how you’re going to get through something, but when you look back in life, you realize how true this statement is.
            

Read the following first line slowly and let it sink in.
If God brings you to it - He will bring you through it. Lord I love You and I need You, come into my heart, today. For without You I can do nothing.

When Jesus died on the cross, he was thinking of you!

Renungan Mengenai Sangkar Burung

March 27th, 2007 by cornell

Suatu masa, ada seorang pria bernama George Thomas, seorang pastur di sebuah
kota kecil di New England. Pada suatu Minggu pagi, hari
Paskah, ia tiba di gereja dengan membawa sangkar burung yg sudah karatan dan penyok-penyok, dan meletakannya di altar. Orang-orang pada keheranan dan seolah-olah menangkap rasa penasaran orang-orang, Pastur Thomas mulai bicara….

Saya sedang berjalan-jalan sekeliling
kota kemarin dan melihat seorang anak laki-laki berjalan mendekati saya sambil mengayun-ayunkan sangkar burung ini. Di dasar sangkar ada tiga burung kecil dan liar, menggigil karena kedinginan dan ketakutan. Saya stop anak laki-laki itu dan saya tanyakan,

"Ada apa di sangkar itu, nak?"

"Hanya beberapa burung biasa" jawabnya.

"Apa yg akan kau lakukan pada mereka?" tanya saya.

"Bawa pulang ke rumah dan menggoda mereka," jawabnya.

"Saya akan menggoda mereka dan mencabuti bulu-bulu mereka supaya mereka saling berkelahi. Saya pasti akan menikmati saat itu."

"Tapi kamu nanti akan jadi bosan dengan burung-burung itu cepat atau lambat. Lantas apa yang akan kamu kerjakan?"

"Oh, saya
kan punya beberapa kucing," kata anak laki-laki itu.

"Mereka senang burung. Saya akan berikan burung-burung ini pada kucing-Kucing itu."

Pastur terdiam untuk beberapa saat. "Berapa yang kamu inginkan untuk burung-burung itu, nak?"

"Huh? Mengapa, Anda tidak mungkin menginginkan burung-burung ini kan, Pak. Mereka hanyalah burung biasa. Mereka tidak bisa bersiul merdu. Mereka bahkan tidak menarik!"

"Berapa?" Tanya pastur lagi.

Si anak laki-laki itu mengukur kemampuan si pastur dan menilai si pastur mungkin gila, dan menjawab, "$10?"

Pastur mengambil dari kantungnya dan mengeluarkan selembar uang kertas sepuluh dollar.

Ia taruh di tangan anak laki-laki itu! Dalam sekejap, anak laki-laki itu pun menghilang.

Si pastur memungut sangkar tersebut dan dengan lembut membawanya ke ujung gang dimana ada sebuah pohon dan tempat yang berumput. Sambil meletakkan sangkar itu, ia membuka pintunya, dan dengan mengetuk jeruji sangkar pelan-pelan membujuk burung-burung itu keluar.

Dan, itu tadi menjelaskan mengapa sangkar burung yang kosong ini di atas altar ini, lalu pastur mulai menceritakan cerita ini.

Suatu hari IBLIS dan TUHAN sedang bercakap-cakap. IBLIS baru saja datang dari Taman Firdaus, dan ia nampak rakus dan sedang membual.

"Ya tuan, saya baru saja melihat dunia penuh dengan orang-orang di bawah sana. Saya pasang perangkap, gunakan umpan yang saya tahu pasti mereka tak akan bisa menolak. Kenalah mereka semua!"

"Apa yg akan kau lakukan terhadap mereka?" tanya TUHAN.

IBLIS menjawab, "Oh, saya akan bersenang-senang! Saya akan ajarkan mereka bagaimana kawin dan cerai, bagaimana saling membenci dan menganiaya satu sama lain, bagaimana saling minum-minum dan merokok dan menghujat. Saya akan ajarkan mereka bagaimana membuat senjata dan bom, dan saling membunuh satu sama lain. Saya akan benar-benar senang!"

"Dan apa yang akan kau lakukan terhadap mereka setelah engkau selesai dengan itu semua?" tanya TUHAN.

"Oh, saya akan bunuh mereka," IBLIS menatap dengan bangga.

"Berapa yang kau inginkan untuk mereka?" tanya TUHAN.

"Oh, kau tidak mungkin menginginkan orang-orang itu. Mereka tidaklah baik. Mengapa, kau ambil mereka dan mereka hanya akan membencimu. Mereka akan meludahimu, menghujatmu dan membunuhmu. Kau tidak mau orang-orang ini!"

"Berapa? Ia bertanya lagi.

IBLIS menatap TUHAN dan menyeringai, "Semua darah, air mata, dan jiwamu."

TUHAN berkata, "Baiklah!"
Lalu Ia membayar harganya dengan darah, air mata dan jiwa-NYA.

Pastur memungut sangkar tersebut. Ia membuka pintunya dan ia melangkah dari mimbar.

Teman

March 26th, 2007 by cornell

Teman adalah hadiah dari Tuhan buat kita. Seperti hadiah, ada yang bungkusnya bagus dan ada yang bungkusnya kurang bagus. Yang bungkusnya bagus punya wajah rupawan, atau kepribadian yang menarik. Yang bungkusnya kurang bagus punya wajah biasa saja, atau kepribadian yang biasa saja, atau malah menjengkelkan.
Seperti hadiah, ada yang isinya bagus dan ada yang isinya kurang bagus. Yang isinya bagus punya jiwa yang begitu indah sehingga kita terpukau ketika berbagi rasa dengannya, ketika kita tahan menghabiskan waktu berjam-jam saling bercerita dan menghibur, menangis bersama, dan tertawa bersama. Kita mencintai dia dan dia mencintai kita. Yang isinya kurang bagus punya jiwa yang terluka. Begitu dalam luka-
lukanya sehingga jiwanya tidak mampu lagi mencintai, justru karena ia tidak merasakan cinta dalam hidupnya. Sayangnya yang kita tangkap darinya seringkali justru sikap penolakan, dendam, kebencian,
iri hati, kesombongan, amarah, dll. Kita tidak suka dengan jiwa-jiwa semacam ini dan mencoba menghindar dari mereka. Kita tidak tahu bahwa itu semua BUKAN-lah karena mereka pada dasarnya buruk,
tetapi ketidakmampuan jiwanya memberikan cinta karena justru ia membutuhkan cinta kita, membutuhkan empati kita, kesabaran dan keberanian kita untuk mendengarkan luka-luka terdalam yang memasung jiwanya.

Bagaimana bisa kita mengharapkan seseorang yang terluka lututnya berlari bersama kita? Bagaimana bisa kita mengajak seseorang yang takut air berenang bersama? Luka di lututnya dan ketakutan terhadap airlah yang mesti disembuhkan, bukan mencaci mereka karena mereka tidak mau berlari atau berenang bersama kita.
Mereka tidak akan bilang bahwa "lutut" mereka luka atau mereka takut "air", mereka akan bilang bahwa mereka tidak suka berlari atau mereka akan bilang berenang itu membosankan, dll. It’s a defense
mechanism. Itulah cara mereka mempertahankan diri. Mereka tidak akan bilang: "Aku tidak bisa menari","Aku membutuhkan kamu","Aku kesepian","Aku butuh diterima","Aku ingin didengarkan".
Mereka akan bilang : "Menari itu tidak menarik","Tidak ada yang cocok denganku","Teman-temanku sudah lulus semua","Aku ini buruk, siapa yang bakal tahan denganku..","Kisah hidupku membosankan.."
Mereka semua hadiah buat kita, entah bungkusnya bagus atau jelek, entah isinya bagus atau jelek. Dan jangan tertipu oleh kemasan. Hanya ketika kita bertemu jiwa-dengan-jiwa, kita tahu hadiah sesungguhnya yang sudah disiapkan-Nya buat kita. Berikanlah makna di dalam kehidupan Anda bukan hanya untuk diri Anda sendiri saja melainkan juga untuk membahagiakan sesama manusia di dalam lingkungan kehidupan Anda. Berikanlah waktu Anda dengan digabung oleh rasa kasih!

Untuk mengetahui nilainya waktu SATU TAHUN tanyakanlah kepada mahasiswa
yang
tidak lulus ujian. Untuk mengetahui nilainya waktu SATU BULAN tanyakanlah kepada Ibu yang melahirkan bayi secara premature. Untuk mengetahui nilainya waktu SATU
MINGGU
tanyalah kepada redaksi dan editor dari majalah minggguan. Untuk mengetahui nilainya waktu SATU JAM tanyakanlah kepada seorang kekasih yang sedang menunggu kedatangan pacarnya. Untuk mengetahui nilainya waktu SATU
MENIT
tanyakanlah kepada orang yang terlambat untuk naik kereta api. Untuk mengetahui nilainya waktu SATU DETIK tanyakanlah kepada seorang yang barusan saja mengalami musibah karena kelalaian dalam sedetik saja.

Yesterday is history, tommorow is mistery, today is a gift! That’s why it’s called the present! Seorang sahabat sama seperti satu permata yang tak ternilai harganya.
Seorang kawan bisa membuat kita ceria, membuat kita terhibur. Mereka meminjamkan kupingnya kepada kita pada saat kita membutuhkannya. Mereka bersedia
membuka hati maupun perasaannya untuk berbagi suka dan duka dengan kita pada saat kita membutuhkannya. Maka dari itu janganlah buang waktu yang
Anda miliki, janganlah sia-sia akan waktu yang sedemikian berharganya. Bagikanlah
sebagian dari waktu yang Anda miliki untuk seorang kawan. Pasti waktu yang Anda
berikan tersebut akan berbalik kembali seperti juga satu lingkaran.

Dalam Tangan Siapa?

March 24th, 2007 by cornell

Bola basket dalam tanganku berharga $19.
Bola
basket dalam tangan Michael Jordan berharga $33 juta.
Tergantung ada dalam tangan siapa.

Baseball dalam tanganku berharga $6.
Baseball dalam tangan Mark McGuire berharga $19 juta.
Tergantung ada dalam tangan siapa.

Raket tenis tak ada gunanya dalam tanganku.
Raket tenis dalam tangan Venus Williams menghasilkan kemenangan dalam kejuaraan dunia.
Tergantung ada dalam tangan siapa.

Tongkat dalam tanganku menghalau binatang buas.
Tongkat dalam tangan Musa membelah lautan luas.
Tergantung ada dalam tangan siapa.

Ketapel dalam tanganku merupakan mainan anak-anak.
Ketapel dalam tangan Daud merupakan senjata dahsyat.
Tergantung ada dalam tangan siapa.

Lima roti dan dua ikan dalam tanganku menjadi beberapa potong roti isi.
Lima roti dan dua ikan dalam tangan Yesus memberi makan ribuan orang.
Tergantung ada dalam tangan siapa.

Paku-paku dalam tanganku menghasilkan sangkar burung.
Paku-paku
dalam tangan Yesus Kristus menghasilkan keselamatan bagi segenap umat manusia.
Tergantung ada dalam tangan siapa.

Kau lihat sekarang, segala sesuatu tergantung ada dalam tangan siapa.
Jadi serahkan segala masalahmu, kekhawatiranmu, ketakutanmu, harapan-harapanmu, impian-impianmu, keluargamu, kawan serta sahabat-sahabatmu dalam tangan Tuhan sebab…
segala sesuatu tergantung ada dalam tangan siapa.