Archive for June, 2008

Cerita tentang tukang ledeng

Thursday, June 26th, 2008

Suatu
hari bos Mercedez Benz mempunyai masalah dengan kran air di rumahnya.
Kran itu selalu bocor hingga dia kawatir anaknya terpeleset jatuh.
Atas  rekomendasi seorang temannya, Mr. Benz menelpon seorang tukang
ledeng untuk memperbaiki kran miliknya. Perjanjian perbaikan ditentukan
2 hari kemudian karena si tukang ledeng rupanya cukup sibuk. Si tukang
ledeng sama sekali tidak tahu bahwa si penelpon adalah bos
pemilik perusahaan mobil terbesar di Jerman .

Satu
hari setelah ditelpon Mr.Benz, pak tukang ledeng menghubungi Mr.Benz
untuk menyampaikan terima kasih karena sudah bersedia menunggu satu
hari lagi. Bos Mercy-pun kagum atas pelayanan dan cara berbicara pak
tukang ledeng. Pada hari yang telah disepakati, si tukang ledeng datang
ke rumah Mr.Benz untuk memperbaiki kran yang bocor. Setelah kutak  sana kutak sini, kranpun selesai diperbaiki dan pak tukang ledeng pulang setelah menerima pembayaran atas jasanya.

Sekitar
2 minggu setelah hari itu, si tukang ledeng menghubungi Mr.Benz untuk
menanyakan apakah kran yang diperbaiki sudah benar-benar beres atau
masih timbul masalah? Mr. Benz berpikir pasti orang ini orang hebat
walaupun cuma tukang ledeng. Mr. Benz menjawab ditelepon bahwa kran dirumahnya sudah benar-benar beres dan mengucapkan terima kasih atas pelayanan pak tukang ledeng..

Tahukah anda
bahwa beberapa bulan kemudian Mr. Benz merekrut si tukang ledeng untuk
bekerja di perusahaannya? Ya, namanya Christopher L. Jr. Saat ini
beliau adalah General Manager Customer Satisfaction and Public Relation
di Mercedez Benz!

Jangan lupa dan aplikasikan dalam tingkah laku sehari hari :
1. Masukkan hanya informasi dan nasehat bergizi untuk  otak kita. Jangan pernah memberinya sampah.
2. Jangan sampai rasa takut mengalahkan kita. Hadapi dia face to face!
3. Tersenyumlah dengan tulus hingga gigi kita terlihat dan jadilah orang yang menyenangkan.
4. Selalu tambahkan keju dan pelayanan terbaik walaupun itu tidak diminta.

Mengapa berteriak?

Tuesday, June 17th, 2008

Suatu
hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya, "Mengapa ketika
seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara
kuat atau berteriak?"

Seorang
murid setelah berpikir cukup lama mengangkat  tangan dan menjawab,
"Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia
lalu berteriak."

"Tapi…"
sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya justru berada di sampingnya.
Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"

Hampir
semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut
pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan.

Sang
guru lalu berkata, "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi
kemarahan, jarak antara kedua hati mereka menjadi amat jauh walau
secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang
demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka
berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya
jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi.
Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi."

Sang
guru masih melanjutkan, "Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang
saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika
mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan
kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu
jelas. Mengapa demikian?"

Sang
guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak
berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban.

"Karena
hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya
sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah
cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."

Sang
guru masih melanjutkan, "Ketika anda sedang dilanda kemarahan,
janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak
mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di
saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang
bijaksana. Karena waktu akan membantu anda."

Telaga Hati

Tuesday, June 3rd, 2008

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang
bijak. Pada suatu pagi, datanglah
seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah.
Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Pemuda itu, memang tampak seperti
orang yang tak bahagia. Pemuda itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang
bijak mendengarkan dengan seksama. Beliau lalu mengambil segenggam garam dan
segelas air. Dimasukkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduk perlahan.

"Coba, minum ini, dan katakan bagaimana
rasanya," ujar Pak tua itu.

"Asin. Asin sekali," jawab sang tamu, sambil
meludah ke samping.

Pak Tua tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Beliau lalu
mengajak sang pemuda ke tepi telaga di dekat tempat tinggal Beliau.
Sesampai di tepi telaga, Pak Tua menaburkan segenggam
garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, diaduknya air telaga itu.

"Coba, ambil air dari telaga ini dan minumlah."
Saat pemuda itu selesai mereguk air itu, Beliau bertanya, "Bagaimana rasanya?"
"Segar," sahut sang pemuda.
"Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?"
tanya Beliau lagi.

"Tidak," jawab si anak muda.

Dengan lembut Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda.
"Anak muda, dengarlah.
Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam tadi,
tak lebih dan tak kurang. Jumlah garam yang kutaburkan sama, tetapi rasa air
yang kau rasakan berbeda. Demikian pula kepahitan akan kegagalan yang kita
rasakan dalam hidup ini, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki.

Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan
segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu
merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada
satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya.
Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."

Beliau melanjutkan nasehatnya.
"Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."

Kisah Pohon Apel

Tuesday, June 3rd, 2008

Suatu
ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang
senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan
buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya.

Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu.

Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu.

Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi
bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi
pohon apel.

Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi
denganku," pinta pohon apel itu. "Aku bukan anak kecil yang
bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu.

"Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya
uang untuk membelinya."

Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya
uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa
mendapatkan uang  untuk membeli mainan kegemaranmu. "

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah
apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu
anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi.

Pohon apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo
bermain-main denganku lagi," kata pohon apel. "Aku tak punya
waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku.
Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"


"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh
menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel.
Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting
pohon apel itu dan pergi dengan gembira.

Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu
senang, tapi
anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel
itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon
apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.

"Ayo bermain-main lagi deganku," kata pohon
apel.

"Aku sedih," kata anak lelaki itu.

"Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin
pergi berlibur dan
berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk
pesiar?"


"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh
memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau.
Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah."

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu
dan membuat kapal yang diidamkannya.

Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui
pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah
bertahun-tahun kemudian.

"Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku
sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."


"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit
buah apelmu,"
jawab anak lelaki itu.


"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau
panjat," kata pohon apel.


"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,"
jawab anak lelaki itu.

"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa
aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan
sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.


"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata
anak lelaki.


"Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku
sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."


"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua
adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring
di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."


Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.

Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil
meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua.

Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan
ibu kita.

Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan
hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.

Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana
untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan
untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa
anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi
begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

ProsesNYA indah

Tuesday, June 3rd, 2008

Kadang
kita bertanya dalam hati & menyalahkan Tuhan, "apa yg telah saya
lakukan sampai saya harus mengalami ini semua ?" atau "kenapa Tuhan
membiarkan ini semua terjadi pada saya ?"

Here
is a wonderful explanation. ..

Seorang anak memberitahu ibunya kalau segala sesuatu tidak berjalan seperti yang dia harapkan.

Dia mendapatkan nilai jelek dalam raport, putus dengan pacarnya, dan sahabat terbaiknya pindah ke luar kota.

Saat
itu ibunya sedang membuat kue, dan menawarkan apakah anaknya mau
mencicipinya, dengan senang hati dia berkata, "Tentu saja, I love your
cake."

"Nih, cicipi mentega ini," kata Ibunya menawarkan. "Yaiks," ujar anaknya.

"Bagaimana dgn telur mentah ?"

"You’re kidding me, Mom."

"Mau coba tepung terigu atau baking soda ?"

"Mom, semua itu menjijikkan. "

Lalu Ibunya menjawab, "ya, semua itu memang kelihatannya tidak enak jika dilihat dan dirasakan satu per satu.

Tapi jika dicampur jadi satu melalui satu proses yang benar, mulai pencampuran bahan kue
sampai kue masuk oven, akan menjadi kue yang enak."

Tuhan bekerja dengan cara yang sama.

Seringkali kita bertanya kenapa Dia membiarkan kita melalui masa-masa yang sulit dan tidak menyenangkan.

Tapi
Tuhan tahu, jika Dia membiarkan semuanya terjadi satu per satu sesuai
dgn rancanganNya, segala sesuatunya akan menjadi sempurna tepat pada
waktunya.

Kita hanya perlu percaya proses ini diperlukan untuk menyempurnakan hidup
kita.

Tuhan
teramat sangat mencintai kita semua . Dia mengirimkan bunga setiap
musim semi, sinar matahari setiap pagi dan hembusan udara yang mengalir
setiap saat.

Tanpa diminta,Dia berikan semuanya dengan sukarela.

Setiap
saat kita ingin bicara, Dia akan mendengarkan. Dia ada setiap saat kita
membutuhkanNya, Dia ada di setiap tempat, dan Dia memilih untuk berdiam
di hati kita.