Why should we go to the church?
Friday, September 28th, 2007Seorang Kristen menulis surat kepada Editor sebuah surat kabar dan
mengeluhkan kepada para pembaca bahwa dia merasa sia-sia pergi ke
gereja setiap minggu. Tulisnya, "Saya sudah pergi ke gereja selama 30
tahun dan selama itu saya telah mendengar 3000 khotbah. Tapi selama
hidup, saya tidak bisa mengingat satu khotbah pun. Jadi saya rasa saya
telah memboroskan begitu banyak waktu - demikian pun para pastor itu
telah memboroskan
waktu mereka dengan khotbah-khotbah itu."
Surat
itu menimbulkan perdebatan yang hebat dalam kolom pembaca. Perdebatan
itu berlangsung berminggu-minggu sampai akhirnya ada seseorang yang
menulis demikian: "Saya sudah menikah selama 30 tahun. Selama ini istri
saya telah memasak 32.000 jenis masakan. Selama hidup saya tidak bisa
mengingat satu pun jenis masakan itu yang dilakukan istri saya. Tapi
saya tahu bahwa masakan-masakan itu telah memberi
saya kekuatan
yang saya perlukan untuk bekerja. Seandainya istri saya tidak
memberikan makanan itu kepada saya, maka saya sudah lama meninggal."
Sejak itu tak ada lagi komentar tentang khotbah.
Cerita 2
Nenek
Granny sedang menyambut cucu-cucunya pulang dari sekolah. Mereka adalah
anak-anak muda - anak muda yang sangat cerdas dan sering menggoda nenek
mereka. Kali ini, Tom mulai menggoda dia dengan berkata, "Nek, apakah
nenek masih pergi ke gereja pada hari minggu?"
"Tentu!"
"Apa yang nenek peroleh dari gereja? Apakah nenek bisa memberitahu kami tentang Injil minggu lalu..?"
"Tidak, nenek sudah lupa. Nenek hanya ingat bahwa nenek menyukainya."
"Lalu apa khotbah dari pastor?"
"Nenek
tidak ingat. Nenek sudah semakin tua dan ingatan nenek melemah. Nenek
hanya ingat bahwa ia telah memberikan khotbah yang memberi kekuatan,
Nenek menyukai khotbah itu."
Tom menggoda, "Apa untungnya pergi ke gereja jika nenek tidak mendapatkan sesuatu dariNya?"
Nenek itu terdiam oleh kata-kata itu dan ia duduk di sana termenung. Dan anak-anak lain tampak menjadi malu.
Kemudian nenek itu berdiri dan keluar dari ruangan tempat mereka semua
duduk dan berkata, "Anak-anak, ayo ikut nenek ke dapur."
Ketika
mereka tiba di dapur, dia mengambil tas rajutan dan memberikannya
kepada Tom sambil berkata, "Bawalah ini ke mata air, dan isilah dengan
air, lalu bawa kemari!"
"Nenek, apa nenek tidak sedang melucu? Air di dalam tas rajutan….! Nek, apa ini bukan lelucon?" tanya Tom.
"Tidak.., lakukanlah seperti yang kuperintahkan. Saya ingin memperlihatkan kepadamu sesuatu."
Maka Tom berlari keluar dan dalam beberapa menit ia kembali dengan tas yang bertetes-teskan.
"Lihat,nek," katanya. "Tidak ada air di dalamnya."
"Benar," katanya.
"Tapi
lihatlah betapa bersihnya tas itu sekarang. Anak-anak, tidak pernah
kamu ke gereja tanpa mendapatkan sesuatu yang baik, meskipun kamu tidak
mengetahuinya."
Cerita 3
Suatu
ketika, ada seorang pria yang menganggap Natal sebagai sebuah takhayul
belaka. Dia bukanlah orang yang kikir. Dia adalah pria yang baik hati
dan tulus, setia kepada keluarganya dan bersih kelakuannya terhadap
orang lain. Tetapi ia tidak percaya pada kelahiran Kristus yang
diceritakan setiap gereja di hari Natal . Dia sunguh-sungguh tidak
percaya.
"Saya benar-benar minta maaf jika saya membuat kamu sedih," kata pria itu kepada istrinya yang rajin pergi ke gereja.
"Tapi saya tidak dapat mengerti mengapa Tuhan mau menjadi manusia. Itu adalah hal yang tidak masuk akal bagi saya."
Pada
malam Natal, istri dan anak-anaknya pergi menghadiri kebaktian tengah
malam di gereja. Pria itu menolak untuk menemani mereka.
"Saya tidak mau menjadi munafik," jawabnya.
"Saya lebih baik tinggal di rumah. Saya akan menunggumu sampai pulang."
Tak
lama setelah keluarganya berangkat, salju mulai turun. Ia melihat
keluar jendela dan melihat butiran-butiran salju itu berjatuhan. Lalu
ia kembali ke kursinya di samping perapian dan mulai membaca surat
kabar. Beberapa menit kemudian, ia dikejutkan oleh suara ketukan. Bunyi
itu terulang tiga kali. Ia berpikir seseorang pasti sedang melemparkan
bola salju ke arah jendela rumahnya. Ketika ia pergi ke pintu masuk
untuk mengeceknya, ia menemukan sekumpulan burung terbaring tak berdaya
di salju yang dingin. Mereka telah terjebak dalam badai salju dan
mereka menabrak kaca jendela ketika hendak mencari tempat berteduh.
Saya
tidak dapat membiarkan makhluk kecil itu kedinginan di sini, pikir pria
itu. Tapi bagaimana saya bisa menolong mereka? Kemudian ia teringat
akan kandang tempat kuda poni anak-anaknya. Kandang itu pasti dapat
memberikan tempat berlindung yang hangat. Dengan segera pria itu
mengambil jaketnya dan pergi ke kandang kuda tersebut. Ia membuka
pintunya lebar-lebar dan menyalakan lampunya. Tapi burung-burung itu
tidak masuk ke dalam. Makanan pasti dapat menuntun mereka masuk,
pikirnya. Jadi ia berlari kembali ke rumahnya untuk mengambil
remah-remah roti dan menebarkannya ke salju untuk membuat jejak ke arah
kandang. Tapi ia sungguh terkejut. Burung-burung itu tidak menghiraukan
remah roti tadi dan terus melompat-lompat kedinginan di atas salju.
Pria
itu mencoba menggiring mereka seperti anjing menggiring domba, tapi
justru burung-burung itu berpencaran kesana-kemari, malah menjauhi
kandang yang hangat itu.
"Mereka menganggap saya sebagai makhluk
yang aneh dan menakutkan," kata pria itu pada dirinya sendiri, "Dan
saya tidak dapat memikirkan cara lain untuk memberitahu bahwa mereka
dapat mempercayai saya.
Kalau saja saya dapat menjadi seekor burung selama beberapa menit, mungkin saya dapat membawa mereka pada tempat yang aman."
Pada
saat itu juga, lonceng gereja berbunyi. Pria itu berdiri tertegun
selama beberapa waktu, mendengarkan bunyi lonceng itu menyambut Natal
yang indah. Kemudian dia terjatuh pada lututnya dan berkata, "Sekarang
saya mengerti," bisiknya dengan terisak.
"Sekarang saya mengerti mengapa KAU mau menjadi manusia."
Saudaraku,
sering kita mengalami kejenuhan untuk pergi ke gereja dan merasa tak
ada gunanya, semoga cerita di atas ini bisa lebih meneguhkan kita akan
pentingnya ke gereja.