Archive for September, 2007

Why should we go to the church?

Friday, September 28th, 2007
Cerita 1
 
 
 
Seorang Kristen menulis surat kepada Editor sebuah surat kabar dan
mengeluhkan kepada para pembaca bahwa dia merasa sia-sia pergi ke
gereja setiap minggu. Tulisnya, "Saya sudah pergi ke gereja selama 30
tahun dan selama itu saya telah mendengar 3000 khotbah. Tapi selama
hidup, saya tidak bisa mengingat satu khotbah pun. Jadi saya rasa saya
telah memboroskan begitu banyak waktu - demikian pun para pastor itu
telah memboroskan
waktu mereka dengan khotbah-khotbah itu."
 
Surat
itu menimbulkan perdebatan yang hebat dalam kolom pembaca. Perdebatan
itu berlangsung berminggu-minggu sampai akhirnya ada seseorang yang
menulis demikian: "Saya sudah menikah selama 30 tahun. Selama ini istri
saya telah memasak 32.000 jenis masakan. Selama hidup saya tidak bisa
mengingat satu pun jenis masakan itu yang dilakukan istri saya. Tapi
saya tahu bahwa masakan-masakan itu telah memberi
saya kekuatan
yang saya perlukan untuk bekerja. Seandainya istri saya tidak
memberikan makanan itu kepada saya, maka saya sudah lama meninggal."
 
Sejak itu tak ada lagi komentar tentang khotbah.
 
 
 
 

Cerita 2

 
 
 
Nenek
Granny sedang menyambut cucu-cucunya pulang dari sekolah. Mereka adalah
anak-anak muda - anak muda yang sangat cerdas dan sering menggoda nenek
mereka. Kali ini, Tom mulai menggoda dia dengan berkata, "Nek, apakah
nenek masih pergi ke gereja pada hari minggu?"
"Tentu!"
"Apa yang nenek peroleh dari gereja? Apakah nenek bisa memberitahu kami tentang Injil minggu lalu..?"
"Tidak, nenek sudah lupa. Nenek hanya ingat bahwa nenek menyukainya."
"Lalu apa khotbah dari pastor?"
"Nenek
tidak ingat. Nenek sudah semakin tua dan ingatan nenek melemah. Nenek
hanya ingat bahwa ia telah memberikan khotbah yang memberi kekuatan,
Nenek menyukai khotbah itu."
Tom menggoda, "Apa untungnya pergi ke gereja jika nenek tidak mendapatkan sesuatu dariNya?"
Nenek itu terdiam oleh kata-kata itu dan ia duduk di sana termenung. Dan anak-anak lain tampak menjadi malu.
Kemudian nenek itu berdiri dan keluar dari ruangan tempat mereka semua
duduk dan berkata, "Anak-anak, ayo ikut nenek ke dapur."
 
Ketika
mereka tiba di dapur, dia mengambil tas rajutan dan memberikannya
kepada Tom sambil berkata, "Bawalah ini ke mata air, dan isilah dengan
air, lalu bawa kemari!"
"Nenek, apa nenek tidak sedang melucu? Air di dalam tas rajutan….! Nek, apa ini bukan lelucon?" tanya Tom.
"Tidak.., lakukanlah seperti yang kuperintahkan. Saya ingin memperlihatkan kepadamu sesuatu."
 
Maka Tom berlari keluar dan dalam beberapa menit ia kembali dengan tas yang bertetes-teskan.
"Lihat,nek," katanya. "Tidak ada air di dalamnya."
"Benar," katanya.
"Tapi
lihatlah betapa bersihnya tas itu sekarang. Anak-anak, tidak pernah
kamu ke gereja tanpa mendapatkan sesuatu yang baik, meskipun kamu tidak
mengetahuinya."
 
 
 
 
 
Cerita 3
 
 
 
Suatu
ketika, ada seorang pria yang menganggap Natal sebagai sebuah takhayul
belaka. Dia bukanlah orang yang kikir. Dia adalah pria yang baik hati
dan tulus, setia kepada keluarganya dan bersih kelakuannya terhadap
orang lain. Tetapi ia tidak percaya pada kelahiran Kristus yang
diceritakan setiap gereja di hari Natal . Dia sunguh-sungguh tidak
percaya.
"Saya benar-benar minta maaf jika saya membuat kamu sedih," kata pria itu kepada istrinya yang rajin pergi ke gereja.
"Tapi saya tidak dapat mengerti mengapa Tuhan mau menjadi manusia. Itu adalah hal yang tidak masuk akal bagi saya."
 
Pada
malam Natal, istri dan anak-anaknya pergi menghadiri kebaktian tengah
malam di gereja. Pria itu menolak untuk menemani mereka.
"Saya tidak mau menjadi munafik," jawabnya.
"Saya lebih baik tinggal di rumah. Saya akan menunggumu sampai pulang."
 
Tak
lama setelah keluarganya berangkat, salju mulai turun. Ia melihat
keluar jendela dan melihat butiran-butiran salju itu berjatuhan. Lalu
ia kembali ke kursinya di samping perapian dan mulai membaca surat
kabar. Beberapa menit kemudian, ia dikejutkan oleh suara ketukan. Bunyi
itu terulang tiga kali. Ia berpikir seseorang pasti sedang melemparkan
bola salju ke arah jendela rumahnya. Ketika ia pergi ke pintu masuk
untuk mengeceknya, ia menemukan sekumpulan burung terbaring tak berdaya
di salju yang dingin. Mereka telah terjebak dalam badai salju dan
mereka menabrak kaca jendela ketika hendak mencari tempat berteduh.
 
Saya
tidak dapat membiarkan makhluk kecil itu kedinginan di sini, pikir pria
itu. Tapi bagaimana saya bisa menolong mereka? Kemudian ia teringat
akan kandang tempat kuda poni anak-anaknya. Kandang itu pasti dapat
memberikan tempat berlindung yang hangat. Dengan segera pria itu
mengambil jaketnya dan pergi ke kandang kuda tersebut. Ia membuka
pintunya lebar-lebar dan menyalakan lampunya. Tapi burung-burung itu
tidak masuk ke dalam. Makanan pasti dapat menuntun mereka masuk,
pikirnya. Jadi ia berlari kembali ke rumahnya untuk mengambil
remah-remah roti dan menebarkannya ke salju untuk membuat jejak ke arah
kandang. Tapi ia sungguh terkejut. Burung-burung itu tidak menghiraukan
remah roti tadi dan terus melompat-lompat kedinginan di atas salju.
 
Pria
itu mencoba menggiring mereka seperti anjing menggiring domba, tapi
justru burung-burung itu berpencaran kesana-kemari, malah menjauhi
kandang yang hangat itu.
"Mereka menganggap saya sebagai makhluk
yang aneh dan menakutkan," kata pria itu pada dirinya sendiri, "Dan
saya tidak dapat memikirkan cara lain untuk memberitahu bahwa mereka
dapat mempercayai saya.
Kalau saja saya dapat menjadi seekor burung selama beberapa menit, mungkin saya dapat membawa mereka pada tempat yang aman."
 
Pada
saat itu juga, lonceng gereja berbunyi. Pria itu berdiri tertegun
selama beberapa waktu, mendengarkan bunyi lonceng itu menyambut Natal
yang indah. Kemudian dia terjatuh pada lututnya dan berkata, "Sekarang
saya mengerti," bisiknya dengan terisak.
"Sekarang saya mengerti mengapa KAU mau menjadi manusia."
 
 
 
 
 
Saudaraku,
sering kita mengalami kejenuhan untuk pergi ke gereja dan merasa tak
ada gunanya, semoga cerita di atas ini bisa lebih meneguhkan kita akan
pentingnya ke gereja.
 

Phone number of God

Thursday, September 27th, 2007

Bayangkan bila kita pada saat berdoa kita mendengar jawaban ini:

"Terima kasih Anda telah menghubungi Rumah Bapa. Pilihlah salah satu:..

..tekan 1 untuk meminta.

..tekan 2 untuk mengucap syukur;

..tekan 3 untuk mengeluh;

..tekan 4 untuk permintaan lainnya."

Atau, bagaimana jika Allah memohon maaf seperti ini:

"Saat ini semua malaikat sedang membantu yang lain. Tetaplah menunggu, panggilan Anda akan dijawab sesuai urutannya."

Atau bisa juga Anda mendengar ini:

"Komputer kami menunjukkan bahwa Anda telah satu kali menelepon hari ini, silahkan mencoba kembali esok hari."

"Kantor ini ditutup pada hari Minggu,

silahkan menelpon lagi pada hari Senin setelah pukul 9 pagi."

Namun, puji Tuhan, Allah mengasihi kita, kita dapat menelponnya setiap
saat! Kita hanya perlu memanggil sekali dan Dia mendengar kita, karena
Yesus, kita tak akan pernah mendengar nada sibuk.

Tuhan menerima panggilan dan tahu siapa pemanggilnya secara pribadi.

Ketika kita memanggil, Tuhan menjawab; kita menangis minta tolong dan Dia akan berkata:

"Ini Aku" (Yesaya 58:9)

Ketika kita memanggil, gunakan "Nomor Telepon Darurat" di bawah ini:

* Saat berduka cita, putar Yohanes 14

* Ketika dikecewakan sesama, putar Mazmur 27

* Jika Anda ingin berbuah, putar Yohanes 15

* Ketika Anda berdosa, putar Mazmur 51

* Ketika Anda khawatir, putar Matius 6:19-34

* Ketika Anda dalam bahaya, putar Mazmur 91

* Ketika Tuhan terasa jauh, putar Mazmur 139

* Ketika iman Anda perlu dikuatkan, putar Ibrani 11

* Ketika Anda merasa sendiri dan takut, putar Mazmur 23

* Ketika hidup Anda sedang dalam kepahitan, putar 1 Korintus 13

* Untuk rahasia kebahagiaan Paulus, putar Kolose 3:12-17

* Untuk arti kekristenan, putar 1 Korintus 5:15-19

* Ketika Anda merasa kecewa dan ditinggalkan, putar Roma 8:31-39

* Ketika Anda menginginkan kedamaian dan ketenangan, putar Matius 11:25-30

* Ketika dunia terlihat lebih besar dari Tuhan, putar Mazmur 90

* Ketika Anda ingin jaminan kekristenan, putar Roma 8:1-30

* Ketika Anda berangkat kerja atau berpergian, putar Mazmur 121

* Untuk penemuan/kesempatan besar, putar Yesaya 55

* Ketika Anda membutuhkan keberanian untuk suatu tugas, putar Yosua 1

* Supaya Anda dapat bergaul dengan baik terhadap sesama, putar Roma 12

* Ketika Anda memikirkan kekayaaan, putar Markus 10

* Saat Anda mengalami depresi, putar Mazmur 27

* Jika Anda kesulitan keuangan, putar Mazmur 37

* Jika Anda kehilangan kepercayaan terhadap orang, putar 1 Korintus 13

* Jika orang di sekitar kita tampak berlaku tidak baik, putar Yohanes 15

* Jika Anda putus asa dengan pekerjaan, putar Mazmur 126

* Ketika Anda menemukan dunia mengecil dan Anda merasa besar, putar Mazmur 19

Nomor-nomor tersebut dapat langsung dihubungi.

Operator tidak diperlukan.

Seluruh saluran ke Surga terbuka 24 jam sehari!

Dan, yang penting, bagikan daftar telepon ini kepada orang-orang yang kita kasihi di sekeliling kita.

Siapa tahu mungkin mereka sedang membutuhkannya.

GBU

Doa

Thursday, September 27th, 2007

Berdoalah di mana saja anda berada, Tuhan ada di mana-mana.

Bila doa anda menjadi kering dan rutin, teruskan saja. Tanah yang kering kerontang menyambut datangnya hujan.

Bawalah kemarahan anda dalam doa, logam yang panas bisa dibentuk. Bila
anda berdosa dan terus menerus jatuh, berdoalah. Tuhan tetap mencintai
anda.

Berdoalah bila anda cemas. Doa membuat segala sesuatu bisa dipikirkan dan dipertimbangkan secara sehat.

Bila karena sesuatu hal anda tidak bisa berdoa, bersantailah.

Keinginan untuk berdoa itu sudah merupakan langkah awal menuju doa.

Bila dorongan doa mengajak anda untuk mengambil resiko, beranilah.

Tuhan akan mendukung anda. Bila anda merasa sedih atau menyesal, menangislah. Air mata adalah doa dari kalbu hati.

Jika anda tidak menyukai seseorang, berdoalah untuknya. Doa
mengungkapkan maksud Tuhan yang tersembunyi. Bila anda menerima kabar
buruk, tegarlah, doa memberi cahaya terang.

Jika "doa" membuat anda jadi pasif dan acuh tak acuh, itu bukanlah doa.

Doa sejati akan membuahkan kepedulian dan pelayanan.

Gunakanlah saat-saat ribut dan tegang untuk berdoa. Kegaduhan
adalah hiruk pikuk ciptaan yang mencari Tuhan. Berdoalah bila anda
merasa kesepian.

Doa membuat anda ditemani oleh para malaikat.

Bila hidup ini terasa kejam dan tak adil, berdoalah terus. Tuhan adalah karenanya, bukan penyebabnya.

In GOD we trust

GBU All

I Cried For My Brother Six Times, so touching

Wednesday, September 26th, 2007

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari
demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung
mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun
lebih muda
dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana
semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuri lima
puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat
adikku dan diriku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu
di tangannya.

"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya.

Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar
siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu,
kalian berdua layak dipukul!"

Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.

Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya! "

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah
begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau
kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata
kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal
memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu
layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya
penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun.

Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis
meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan
berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.

Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan
seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika
ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk
masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima
untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok
di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya
mendengarnya merengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu
baik… hasil yang begitu baik…"

Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa
gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata,
"Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca
banyak buku."

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya.

"Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan
jika berarti saya mesti mengemis di jalanan, saya akan menyekolahkan
kamu berdua sampai selesai!"

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk
meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka
adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus
meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan
jurang kemiskinan ini."

Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke
universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang,
adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan
sedikit kacang
yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan
meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke
universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan
mengirimimu uang."

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis
dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku
berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang
adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi
konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku
masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di
luar sana!"

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku?

Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya
kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu
tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?"

Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang
akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak
akan menertawakanmu?"

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu
debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku,
"Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga!
Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…"

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk
kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya
melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus
memiliki satu."

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke
dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20.
Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah
telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku
pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.

"Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!"

Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang
awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada
tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang
kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb
pada lukanya dan membalut lukanya.

"Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.

"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi
konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu
tidak menghentikanku bekerja dan…"

Di tengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku
memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun
itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Berkali-kali suamiku dan
aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami,
tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan
dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak
setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga
ibu dan ayah di sini."

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku
mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan.
Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja
sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah
kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.

Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada
kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer?
Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya
seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu
tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya.
"Pikirkan kakak ipar — ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir
tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita
seperti apa
yang akan menjadi buah bibir orang?"

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku
yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"

"Mengapa membicarakan masa lalu?"

Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani
dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu
bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?"

Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.

"Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda.
Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke
sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, saya kehilangan satu dari
sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya
memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah,
tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia
tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama
saya masih hidup, saya akan menjaga
kakakku dan baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih kepadanya adalah adikku."

Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan
perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Pusingnya Jadi Ibu Jaman Sekarang

Wednesday, September 19th, 2007

Curhatan seorang Ibu!!!

Kalo
denger omongannya ibu-ibu kita jaman dulu ( yang sekarang berarti udah
jadi neneknya anak2 kita…), kayaknya punya anak  gampang banget deh
ngurusnya. Mertuaku aja pernah bilang, "Mama sih dulu ngurus anak2
gampang, tinggal kasih makan, lempar… kasih makan, lempar….

"Maksudnya
kali, anaknya tinggal dikasih makan aja, abis itu ngga pusing mau
ngapain terserah anaknya. Yah, berarti berbahagialah wahai ibu2
jadul…..

Sekarang,
mari kita kembali ke laptop…, eh maksudnya kembali ke topik kita.
Dulu waktu belum punya anak, karena ngerasa belum mampu, masih kuliah,
belum kerja, belum punya rumah sendiri, ada aja orang yang ngomentarin :

"Buruan loh  punya anak, kapan lagi…"

Trus kalo dijawab :

"Belom Tante, masih kuliah, mau belajar  kerja dulu."

Si Tante jawab lagi :

"Ya ampun, udah kawin masih kuliah juga ya, ngapain…."

Buset
deh….  Mau marah ga sih, emang ada ya pasalnya orang abis kawin ngga
usah nerusin kuliah, ngga mikir kali dia bayar uang masuknya berapa
jut-jut….

Setelah kerja, ngga KB lagi, eh ternyata masih ngga hamil juga, ada lagi yang suka komentar:

"Lu gimana sih, masa lu kalah sama si Anu…. dia aja udah anak kedua tuh… bikin dong, lucu kan punya anak.."

Walah, emangnya Tuhan kali ya, bisa nentuin sendiri, abis ngulek langsung jadi… siapa sih yang ngga pingin….

Lalu, setelah akhirnya punya anak, tetep ada aja komentar  :

"Kurang lu, anak cuma satu, kasian…."

Dijawabin :

"Satu aja repot,  apa2 mahal."

Dijawab balik :

"Ngga usah dipikirin, tukang becak aja anaknya banyak tuh, idup aja…"

Tukang becak nih ye… mau apa punya anak kualitas tukang becak…. olala…

Susah
kan….. bener deh, kalo dipikir2 lagi, sebenarnya biarpun jaman udah
maju, ibu2 sekarang belanja tinggal ke supermarket, ada babysitter, ada
mesin cuci, rice cooker, internet, dll… tapi perjuangan melawan
musuhnya justru lebih berat loh. Dibahas yo…. dari awal ya :

Hamil

Begitu
tau hamil, mesti ke dokter kandungan, searching dulu dokter mana yang
top punya. Trus musti ke lab, takut ada tokso. Diresepin vitamin
macem2, penguat kandungan, minum susu khusus ibu hamil, musti USG (
kalo bisa sih yg 5 dimensi, biar bisa keliatan pori2 bayinya ), jangan
lupa ikut senam hamil, ikut seminar, parenting class.

Oya,
belanja baju hamil juga penting, perut buncit tetep harus chic dong…
trus, beli krem perut, supaya jangan ada strecthmark nantinya. Beli
lagu2 om Mozart, puterin supaya anaknya jenius juga. Soal makanan juga
penting, musti banyak makan ikan, supaya anaknya pinter kayak orang
Jepun. Tapi pusing juga milih ikannya, soalnya isunya ikan yang dijual
pada berformalin, trus katanya jangan makan seafood terutama kerang,
soalnya banyak menyerap timbal yg ada di Teluk
Jakarta,
anaknya bisa autis. Juga paling ngeri kalo lagi di jalan raya yang
banyak bisnya ngeluarin asap2 hitam, kan katanya bisa jadi salah 1
penyebab anak autis juga.

And
then, jangan makan sate dan lalapan, takut kena tokso juga. Dan
terpaksa cuti ngopi 9 bulan, katanya menyerap sari makanan, anaknya
bisa kur-giz. Trus olahraga jangan lupa, from mall to mall…
he..he..he..

Penyakit

Setelah
anaknya lahir ( secara Caesar, ya gimana ya.. mau normal kata dokter
anaknya kelilit usus ) cepet2 cari babysitter yang jago megang bayi.
Rajin2 imunisasi ke dokter, soalnya hari gini banyak penyakit yg aneh2
.Trus siap2 aja dompet kosong soalnya muahal2 vaksinnya. Trus langganan
BPP (BatukPilekPanas), musti fisioterapi lah, cek alergi lah… Kalo
ditanya, gara2 apa, jawabannya pasti karena virus.

Sekolah & Les

Anaknya
udah bisa duduk, mulai hunting sekolah, abis bayi2 yg lain juga udah
sekolah… bayi gaul gitu loh… Jangan sembarangan juga pilih sekolah,
minimal harus yg 3 bahasa, biar nyerocosnya lancar. Liat juga
fasilitasnya, mesti ada kolam renang, lapangan bola, komputer,
salon…. buat mama2 nunggu anak jadi anteng, becanda… becanda…

Sistemnya
juga macam2, pilih deh mana yg paling sreg: Montessori, IB,Cambrigde,
sekolah alam, dll. Soal uang masuk + uang sekolah? No problema, demi
anak… ( demi gengsi mama juga sih…. ) Belom lagi lesnya, pilihan
banyak: ada Kumon, Sempoa, Inggris, Mandarin, Balet, Renang, Tenis,
Modelling, Drama, Komputer, Gokart juga ada, ayo dipilih… dipilih…
dipilih….

Masak

Sementara
itu tugas masak babysitternya ditake over, karena ternyata doyan banget
MSG, ngga pernah dibeliin, bela2in beli sendiri, jadi mulai saat itu,
mama jadi koki pribadi. Tapi mau belanja juga kudu ati2, beli beras
jangan2 pake pemutih, beli terasi katanya pake pewarna kain, beli sayur
musti cuci di air mengalir kalo ngga bisa kemakan pestisida, beli ikan
& tahu ada pengawetnya, beli
tempe
/ tepung maizena / jagung  takut juga katanya dari tanaman transgenik,
beli buah kalo yang ngga ada bijinya juga katanya transgenik. Beli
biskuit kudu baca label, takut mengandung lemak trans, beli minuman
botol juga ngeri takut gulanya gula buatan, pake pewarna ngga jelas dan
pengawet  extra banyak. Pusiiiiiing….. Susu kaleng juga akhirnya
di-PHK atas sabda dokter, katanya campuran dalam susu kaleng bisa
memicu alergi. Padahal mahal loh belinya, banyak campurannya yang bisa
bikin pinter lagi, katanya… katanya…. Nah sekarang jadi balik ke
jadul, langganan susu sapi segar, fresh from the moo moo.

Masih
soal makanan, setelah bisa makan padat dan harus bawa bekal ke sekolah,
nambah lagi pusingnya mikirin menu sehat apa yang harus dibawa tiap
hari. Kalo anak2 lainnya sih di sekolah ada yang menunya berkisar
antara ayam goreng - kentang goreng - nugget - sosis. Keliatannya sih
menu orang kota, modern, praktis, tapi kan… ayamnya aja pahanya
segede ulekan, maklum ayam tiap hari dicekokin hormon, ngeri deh…
trus kalo nugget & sosis, rumornya juga kan ngga jelas bahan
baku sebenarnya dari apa, beneran daging atau…….??? Takuuuuut….

Susahnya
pula, udah dikonsepin menu sehat, dasar bocah kalo liat pembantu jajan,
eh ikutan nimbrung nyomot krupuk pelangi ( abis warnanya sama tuh kaya
warna daster ), ikut nyicip baso tikus,
tempe goreng dari warteg yg digoreng pake minyak jelantah edisi ke 10  ( maksudnya udah bekas ngegoreng 10 kali ).

Babysitter & Pembantu

Masalah
babysitter & pembantu juga ngga ada abisnya, udah carinya susah, di
yayasan stoknya banyak tapi pas ditanya2 ogah2an kayak ngga niat kerja.
Ada yg baru sehari kerja udah nangis2 minta pulang inget kampung, ada
juga yg langsung menebar pesona kiri kanan, ada yg hamil ngga ketauan,
ada yg sempet ngamar di motel deket rumah sama satpam, ada yg suka
nyuri, yg kabur manjat pagar gara2 kepincut karyawan tetangga seberang
trus diajak kawin lari pdhl baru kenal seminggu, juga ada yg suka
banding2in fasilitas & gaji. Masih soal babysitter & pembantu,
ngeri banget kalo ngebayangin pas mereka ngelakuin hal yang aneh2 itu
jangan2 ada anak kita… ih amit2. Ayo tebak, apakah obrolan
mereka??…. Serem… serem…. ternyata kalo ngga ada majikan, mereka
suka nonton pilem XXX……..

Tontonan , Games, dan Bacaan

Pernah
bayangin ngga kira2 bakal kaya gimana lagi ya perkembangan teknologi 5
atau 10 tahun ke depan. Soalnya yang sekarang aja udah yang bisa bikin
ortu sport jantung. Gara2 banyak tontonan ngaco di TV, bikin anak juga
ikut ngaco. Bayangin deh, film yg lagi diputer sih film anak2, masih
pagi pula, tapi iklannya itu loh… masa iklanin sinetron pas lagi
adegan mau diperkosa, atau lagi tampar2an. Eh suka juga iklanin acara
mistik di sela2 film kartun, alhasil malamnya si anak ngga bisa tidur
gara2 mimpi buruk. Nyebelin kan… Apa musti langganan Astro aja nih…
biar nontonnya Play House Disney Channel aja, tapi kalo neneknya lagi
datang trus maksa buka channel sinetron ya susah juga ya.

Trus
juga, gara2 gampang banget tuh dapetin film2 yg warnyanya biru itu,
bikin tambah stress lagi. Pernah lagi cari barang di pasar, lewatin
lapak2 yg jual DVD, wah musti pinter2 deh pake siasat supaya si anak
matanya ngga sampe ngeliat gambar2 di sampul DVD itu… ngajak dia
ngobrol seru dan tarik tangannya supaya cepet2 lewat dr situ.

Belum
lagi masalah bacaan, komik2nya tuh, penerbitnya ngga pake rating punya,
pukul rata aja pokoke komik ya untuk anak2, ngga peduli isinya adegan
ranjang.

Lalu
kalo lewatin penjual majalah juga kudu ati2, soalnya Donal Bebek bisa
bersebelahan sama Playboy tuh. Mentang2 si Donald juga ngga pake celana
kali ya.

Oya
soal games juga bikin serem. Kasian deh banyak ortu yg ngga ngerti,
asik aja ngisi games di PS anaknya tanpa perhatiin rating gamesnya.
Belom lagi games online, yang tokohnya suka seksi2 banget kostumnya.

Rekreasi

Jaman
dulu belum banyak mall, kayaknya kalo rekreasi sukanya ke Taman Ria,
Ragunan, Monas. Kalo yg jauhan ya ke Lido, Cibodas, Puncak.

Sekarang
kalo ditanya mau kemana, pasti jawabnya mau ke Mall, main di Timezone,
makan es krim Baskin Robbin, HokBen, Mc Donald, Pizza Hut…

Trus
mampir ( tepatnya dipaksa mampir karna tangannya udah ditarik2 anaknya
) ke Kid Station, liat2 mainan import, ya Hotwheels lah… Transformer
lah. Sementara jantung mamanya berdegup2 gara2 liat harga mainan nol
nya banyak banget…

Gaul

Soal
gaul juga musti diawasin nih, hari gini anak ingusan aja banyak yg
diperkosa. Penculikan juga banyak. Punya temen akrab sesama cowo takut
homo, punya temen akrab cewe takut ntar terjadi pernikahan dini. Belum
lagi pemalakan di sekolah, peredaran narkoba di kantin, tawuran,
pelajar plus (  ayam malam ), saing2an model HP, kendaraan, nongkrong
di pool, bla.. bla.. bla..

Nah,
begitulah kira2 gambaran perjuangan seorang Ibu jaman sekarang.
Gimana… beraaaaat kan? Biarpun berat, anak adalah titipan yang amat
sangat berharga. Makanya tugas dijalanin aja dengan riang gembira. Do
the best you can. Jadilah ibu yang bisa dibanggakan oleh anak2 kita.
Jangan lupa, seorang Ibu cuma manusia biasa yang tidak bisa mengawasi
anak2nya 24 jam sehari. Karena itu berdoalah, mohon perlindunganNya
selalu terhadap anak2 kita. Ingat, semua dimulai dari ibu, bukan dari
nenek, atau babysitter atau pembantu. Masa depan anak kita tergantung
pada kita. Hidup ibu …..!!!
 

What goes around comes around

Thursday, September 13th, 2007

Bryan
hampir saja tidak melihat wanita tua yang berdiri dipinggir jalan itu,
tetapi dalam cahaya berkabut ia dapat melihat bahwa wanita tua itu
membutuhkan pertolongan. Lalu ia menghentikan mobil Pontiac tuanya di
depan mobil Mecedes wanita tua itu, lalu ia keluar dan menghampirinya.


Walaupun
dengan wajah tersenyum wanita itu tetap merasa khawatir, karena setelah menunggu beberapa jam tidak ada seorang pun yang berhenti untuk
menolongnya.


Apakah lelaki  itu bermaksud menyakitinya?


Lelaki
tersebut penampilanya tidak terlalu baik, ia kelihatan begitu
memprihatinkan. Wanita itu dapat merasakan kalau dirinya begitu
ketakutan, berdiri sendirian dalam cuaca yang begitu dingin, sepertinya
lelaki tersebut tau apa yang ia pikirkan.


Lelaki
itu berkata "Saya kemari untuk membantu anda Bu, kenapa anda tidak menunggu didalam mobil. Bukankah disana lebih hangat? Oh ya, nama saya
Bryan."


Bryan  masuk kedalam kolong mobil wanita itu untuk memperbaiki yang  rusak.


Akhirnya
ia selesai, tetapi dia kelihatan begitu kotor dan lelah, wanita itu
membuka kaca jendela mobilnya dan berbicara kepadanya. Ia berkata bahwa
ia dari St Louis dan kebetulan lewat jalan ini. Dia merasa tidak cukup
kalau hanya mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan.


Wanita
itu bertanya berapa yang harus ia bayar, berapapun jumlahnya yang ia
minta tidak menjadi masalah, karena ia membayangkan apa yang akan
terjadi jika lelaki itu tidak menolongnya. Bryan hanya tersenyum.


Bryan tidak mengatakan berapa jumlah yang harus dibayar, karena baginya
menolong orang bukanlah suatu pekerjaan. Ia yakin apabila menolong
seseorang yang membutuhkan pertolongan tanpa suatu imbalan, suatu hari
nanti Tuhan pasti akan membalas amal perbuatanya.


Ia
berkata kepada wanita itu, "Bila Ibu benar-benar ingin membalas jasa
saya, maka apabila suatu hari nanti Ibu melihat seseorang yang
membutuhkan pertolongan, tolonglah orang tersebut… dan ingatlah saya."
 

Bryan  menunggu sampai wanita itu menstater mobilnya dan menghilang dari pandangan.


Setelah
berjalan beberapa mil wanita itu melihat kafe kecil, lalu ia mampir
kesana untuk makan dan beristirahat sebentar. Pelayan datang dan
memberikan handuk bersih untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
Wanita itu memperhatikan sang pelayan yang sedang hamil, dan masih
begitu muda. Lalu ia teringat kepada Bryan.


Setelah
wanita itu selesai makan dan sang pelayan sedang mengambil kembalian untuknya, wanita itu pergi keluar secara diam-diam.
 

Setelah
kepergiannya sang pelayan kembali, pelayan itu bingung kemana wanita
itu pergi, lalu ia menemukan secarik kertas diatas meja dan uang
$1.000,-


Ia begitu  terharu setelah membaca apa yang ditulis oleh wanita itu:


"Kamu
tidak berhutang apapun pada saya karena seseorang telah menolong saya,
oleh karena itulah saya menolong kamu. Maka inilah yang harus kamu
lakukan: Jangan pernah berhenti untuk memberikan cinta dan kasih
sayang."


Malam
ketika ia pulang dan pergi tidur, ia berfikir mengenai uang dan apa
yang ditulis oleh wanita itu. Bagaimana wanita itu bisa tahu kalau ia
dan suaminya sangat membutuhkan uang untuk menanti kelahiran bayinya?


Ia
tau bagaimana suaminya sangat merisaukan hal ini. Lalu ia memeluk
suaminya yang terbaring disebelahnya dan memberikan ciuman yang lembut
sambil berbisik: "Semuanya akan baik-baik saja sayang, I Love You
Bryan."
 

"Segala sesuatu  yang berputar akan selalu berputar", therefore, never ever stop doing good  things in life!

Management Story

Wednesday, September 12th, 2007
Story # 1 

It’s
a fine sunny day in the forest and a lion is sitting outside his cave,
lying lazily in the sun. Along comes a fox, out on a walk. 

Fox: "Do  you know the time, because my watch is broken." 
Lion: "Oh, I can  easily fix the watch for you." 
Fox: "Hmm… But it’s a very   complicated mechanism, and your big claws will only destroy it  even more." 
Lion: "Oh no, give it to me, and it will be  fixed." 
Fox: "That’s ridiculous! Any fool  knows that lazy lions  with great claws cannot fix complicated watches." 
Lion: "Sure  they do, give it to me and it will be fixed." 

The
lion disappears into his cave, and after a while he comes back with the
watch which is running perfectly. The fox is impressed, and the lion
continues to lie lazily in the sun, looking very pleased with himself.

Soon a wolf comes along and stops to watch  the  lazy lion in the sun. 

Wolf: "Can I come and watch  TV tonight with you, because mine is broken."
Lion: "Oh, I  can easily fix your TV for you." 
Wolf:
"You don’t expect me to believe such rubbish, do you? There is no way
that a lazy lion with big claws can fix a complicated TV." 
Lion: "No  problem. Do you want to  try it?"   

The
lion goes into his cave, and after a while comes back with a perfectly
fixed TV. The wolf goes away happily and amazed.      
   

Scene  : 
Inside
the lion’s cave. In one corner are half a dozen small and intelligent
looking rabbits who are busily doing very complicated work with very
detailed instruments. In the other corner lies a huge lion looking very
pleased with himself.

Moral of the story  : 
IF YOU WANT TO KNOW WHY A   MANAGER IS FAMOUS; LOOK AT THE WORK OF HIS SUBORDINATES.

   
   
Story # 2  

It’s
a fine sunny day in the forest and a rabbit is sitting outside his
burrow, tippy-tapping on his typewriter. Along comes a fox, out for a
walk.

Fox: "What are you working  on?" 
Rabbit: "My thesis." 
Fox: "Hmm… What is it  about?" 
Rabbit: "Oh, I’m writing about how  rabbits eat  foxes." 

Fox: "That’s  ridiculous ! Any fool  knows that rabbits don’t eat foxes!" 
Rabbit: "Come with me and I’ll  show  you!"   

They
both disappear into the rabbit’s burrow. After few minutes, gnawing on
a fox bone, the rabbit returns to his typewriter and resumes typing.

Soon a wolf comes along and  stops to watch the hardworking rabbit. 

Wolf: "What’s that you are writing?"   
Rabbit: "I’m doing a thesis on how rabbits eat wolves."   
Wolf: "you don’t expect to get such  rubbish  published, do you?"
Rabbit: "No problem. Do you  want to see why?" 

The
rabbit and the wolf go into the burrow and again the rabbit returns by
himself, after a few minutes, and goes back to typing. 

Finally a bear comes along and asks, "What  are you  doing? 
Rabbit: "I’m doing a thesis on  how rabbits eat bears." 
Bear: "Well that’s  absurd!" 
Rabbit: "Come  into my home and I’ll show  you" 
   

Scene  :
As they enter the burrow, the  rabbit introduces the bear to the lion. 
   

Moral of the story :   
IT DOESN’T MATTER HOW SILLY YOUR  THESIS TOPIC IS; WHAT MATTERS IS WHOM YOU HAVE AS A  SUPERVISOR. 
   
   

Management Lesson
In the context of the working world:   
IT DOESN’T MATTER HOW BAD YOUR  PERFORMANCE IS; WHAT MATTERS IS WHETHER YOUR BOSS LIKES YOU OR   NOT. 

Daily Rules from God

Tuesday, September 11th, 2007

1. Wake Up!! Decide to have a good day. "Today is the day the Lord hath made; let us rejoice and be glad in it." Psalms 118:24

2. Dress Up!! The best way to dress up is to put on a smile. A smile is an inexpensive way to improve your looks. "The Lord does not look at the things man looks at. Man looks at outward appearance; but the Lord looks at the heart." I Samuel 16:7

3. Shut Up!! Say nice things and learn to listen. God gave us two ears and one mouth, so He must have meant for us to do twice as much listening as talking. "He who guards his lips guards his soul." Proverbs 13:3


4 . Stand Up!!…
For what you believe in. Stand for something or you will fall for anything.. "Let us not be weary in doing good; for at the proper time, we will reap a harvest if we do not give up. Therefore, as we have opportunity, let us do good…" Galatians 6:9-10

5 . Look Up!!… To the Lord.
"I can do everything through Christ who strengthens me."
Phillippians 4:13

6 . Reach Up!!… For something higher. "Trust in the Lord with all your heart, and lean not unto your own understanding. In all your ways, acknowledge Him, And He will direct your path." Proverbs 3:5-6


7. Lift Up!!…
Your Prayers.
"Do not worry about anything; instead PRAY ABOUT EVERYTHING."
Philippians 4:6