Archive for April, 2007

Menjadi Sebuah Pelita

Tuesday, April 10th, 2007

Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita.

Orang buta itu terbahak berkata: "Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok."

Dengan lembut sahabatnya menjawab, "Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu."

Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta.

Dalam kagetnya, ia mengomel, "Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!"

Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.

Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta.

Kali ini si buta bertambah marah, "Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!"

Pejalan itu menukas, "Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu
sudah padam!"

Si buta tertegun..

Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, "Oh, maaf, sayalah yang ‘buta’, saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta."

Si buta tersipu menjawab, "Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya."

Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.

Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita. Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, "Maaf,
apakah pelita saya padam?"

Penabraknya menjawab, "Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama."

Senyap sejenak. secara berbarengan mereka bertanya, "Apakah Anda orang buta?"

Secara serempak pun mereka menjawab, "Iya," sembari meledak dalam tawa. Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.

Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta.

Timbul pikiran dalam benak orang ini, "Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka."

Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).

Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain,
tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan "pulang", ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati
karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.

Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang
peduli. Kadang, mereka memilih untuk "membuta" walaupun mereka bisa melihat.

Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita,
sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.

Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus
belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana.

Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.

Sudahkah
kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita.

Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.

Bila mata tanpa penghalang, hasilnya adalah penglihatan. Jika telinga tanpa penghalang, hasilnya adalah pendengaran. Hidung yang tanpa penghalang membuahkan penciuman. Fikiran yang tanpa penghalang hasilnya adalah kebijaksanaan.

Teman Yang Patut Dihindari

Wednesday, April 4th, 2007
Setiap teman tidak diciptakan sama. Banyak teman yang mengisi kehidupan Anda tetapi ada beberapa yang sebaiknya tidak dijadikan teman. Ciri khas dari orang-orang yang dimaksud adalah mereka yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak peduli dengan orang lain termasuk Anda. Setiap orang memang tidak sempurna dan ada saatnya dimana kita lebih memikirkan diri sendiri dan terkadang kita merasa bersalah dengan sikap ini.
Yang jelas, sebuah persahabatan merupakan sebuah hubungan timbal balik. Bila salah satu teman tidak berhenti menceritakan dirinya sendiri dan menganggap dialah yang terbaik, sebaiknya pikir dua kali untuk menjadikannya sahabat atau sebaiknya Anda mencoret namanya dari daftar nama teman-teman dekat. Satu hal yang perlu diingat, sebelum menyortir daftar nama teman-teman dekat, tanyakan pada diri sendiri, apakah uraian di bawah ini cocok untuk Anda. Toh, Anda juga tidak mau bila ternyata teman Anda mencoret nama Anda dari daftar pertemanannya sesudah membaca uraian berikut ini.
1. Tukang mengeluh
Orang dengan tipe ini selalu mempunyai masalah dalam hidupnya. Biasanya yang menjadi problem baginya adalah masalah sehari-hari seperti atasan yang menurut dia terlalu menuntut, teman sekerja yang tidak tahu cara berbicara dengan sopan, dan lainnya. Dia juga merasa seakan-akan seisi dunia tidak menyukai dirinya. Memang betul, sebagai manusia kita pasti pernah mengeluh. Tapi kan, tidak berarti setiap saat harus mengeluh. Sementara orang yang termasuk tipe ini, baginya tiada hari tanpa keluhan.
2. Tuan/Nyonya Besar
Dia memperlakukan temannya seperti asisten atau pembantu yang selalu siap untuk disuruh-suruh. Satu hari dia meminta Anda mengerjakan pekerjaannya pada waktu dia bolos kerja, lain waktu dia meminta Anda untuk membayarkan tagihan kartu kreditnya ke bank atau menyuruh Anda membelikan makan siang untuknya. Atau bahkan menitipkan anaknya di rumah anda sementara dia berbelanja ke mal.
3. Sok paling sibuk
Dia adalah ketua POM (Persatuan Orang tua Murid) di sekolah anaknya, dia juga ketua RT di lingkungan rumahnya, dan dia juga seorang manajer pemasaran di kantornya. Dia merasa menjadi orang yang paling sibuk di dunia dan meremehkan Anda. Bila ada acara makan malam ataupun ulang tahun salah seorang teman, dia selalu datang terlambat dan sudah pasti dengan alasan yang klasik: kelewat sibuk. Dan dia seolah mau memperlihatkan kepada tuan rumah, di sela-sela kesibukannya, dia masih berusaha menyempatkan waktunya untuk datang.
4. Banyak Mulut
"Oh, untung telepon genggam saya berdering. Kalau tidak, bagaimana saya bisa melepaskan diri dari dia. Dia terus berbicara tidak ada habisnya." Dan, hanya dia yang terus bercerita dan tidak memberikan waktu kepada Anda untuk memberikan komentar apalagi berbicara. Orang yang termasuk tipe ini tidak peka dan tidak merasa kalau orang lain bosan mendengar ocehannya.
5. Penasihat Ulung
Ada saat-saat dimana kita membutuhkan seorang teman untuk curhat tetapi tidak seorang pun yang merasa senang bila dinasihati sepanjang hari. Dengan gayanya yang khas, tanpa diminta pun si teman ini akan memberi nasihat panjang lebar yang sebetulnya tak Anda perlukan.
6. Habis Manis Sepah Dibuang
Teman yang termasuk jenis ini hanya mau berkawan dengan Anda bila ada perlunya saja. Begitu dia sudah tidak memerlukan Anda, dia tinggalkan dan lupakan Anda dengan amat mudahnya. Misalnya, Anda dan teman-teman yang lain sudah membuat rencana yang matang satu minggu lebih awal untuk berpiknik keluar kota. Segala macam tetek-bengek dibicarakan, termasuk pengeluaran bensin dan makan yang dibagi sesuai dengan jumlah orang yang akan pergi, termasuk teman Anda yang satu ini. Tetapi tepat pada hari-H, di mana semua telah bersiap-siap akan berangkat, telepon genggam teman Anda berdering dan ternyata kekasihnya yang menelepon, mengajaknya menonton film. Tanpa berpikir panjang, dia meninggalkan Anda dan teman-teman yang lain begitu saja, tanpa ada perasaan bersalah.
7. Merasa yang Terhebat
Menurut dia, apa pun yang dilakukannya selalu lebih baik dari Anda. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengatakan kepada Anda bahwa perhiasannya adalah yang termahal di antara teman-teman sekantor. Dia akan mengatakan kepada Anda bahwa model baju Anda sudah tidak "in" sementara baju yang dipakainya adalah baju model mutakhir yang dibelinya di luar negeri baru-baru ini. Orang dengan tipe ini tidak menyadari, teman bukanlah saingan dan dia tidak menyadari arti sebuah persahabatan sejati.

tO foRgivE

Monday, April 2nd, 2007

One day a while back, a man, his heart heavy with grief, was walking in the woods. As he thought about his life this day, he knew many things were not right. He thought about those who had lied about him back when he had a job. His thoughts turned to those who had stolen his things and cheated him. He remembered family that had passed on. His mind turned to the illness he had that no one could cure. His very soul was filled with anger, resentment and frustration.

Standing there this day, searching for answers he could not find, knowing all else had failed him, he knelt at the base of an old oak tree to seek the one he knew would always be there. And with tears in his eyes, he prayed: "Lord- You have done wonderful things for me in this life. You have told me to do many things for you, and I happily obeyed. Today, you have told me to forgive. I am sad, Lord, because I cannot. I don’t know how. It is not fair Lord. I didn’t deserve these wrongs that were done against me and I shouldn’t have to forgive. As perfect as your way is Lord, this one thing I cannot do, for I don’t know how to forgive. My anger is so deep Lord, I fear I may not hear you, but I pray that you teach me to do this one thing I cannot do - Teach me to forgive."

As he knelt there in the quiet shade of that old oak tree, he felt something fall onto his shoulder. He opened his eyes. Out of the corner of one eye, he saw something red on his shirt. He could not turn to see what it was because where the oak tree had been was a large square piece of wood in the ground. He raised his head and saw two feet held to the wood with a large spike through them. He raised his head more, and tears came to his eyes as he saw Jesus hanging on a cross. He saw spikes in His hands, a gash in His side, a torn and battered body, deep thorns sunk into His head.

Finally he saw the suffering and pain on His precious face. As their eyes met, the man’s tears turned to sobbing, and Jesus began to speak.

"Have you ever told a lie?" He asked? The man answered - "yes, Lord."
"Have you ever been given too much change and kept it?" The man answered - " yes. Lord."
And the man sobbed more and more.
"Have you ever taken something from work that wasn’t yours?" Jesus asked?
And the man answered - "yes, Lord."
"Have you ever sworn, using my Father’s name in vain?"
The man, crying now, answered - "yes, Lord."
As Jesus asked many more times, "Have you ever"?
The man’s crying became uncontrollable, for he could only answer - "yes, Lord."
Then Jesus turned His head from one side to the other, and the man felt something fall on his other shoulder. He looked and saw that it was the blood of Jesus. When he looked back up, his eyes met those of Jesus, and there was a look of love the man had never seen or known before. Jesus said, "I didn’t deserve this either, but I forgive you."

It may be hard to see how you’re going to get through something, but when you look back in life, you realize how true this statement is.
            

Read the following first line slowly and let it sink in.
If God brings you to it - He will bring you through it. Lord I love You and I need You, come into my heart, today. For without You I can do nothing.

When Jesus died on the cross, he was thinking of you!