Archive for March, 2007

Renungan Mengenai Sangkar Burung

Tuesday, March 27th, 2007

Suatu masa, ada seorang pria bernama George Thomas, seorang pastur di sebuah
kota kecil di New England. Pada suatu Minggu pagi, hari
Paskah, ia tiba di gereja dengan membawa sangkar burung yg sudah karatan dan penyok-penyok, dan meletakannya di altar. Orang-orang pada keheranan dan seolah-olah menangkap rasa penasaran orang-orang, Pastur Thomas mulai bicara….

Saya sedang berjalan-jalan sekeliling
kota kemarin dan melihat seorang anak laki-laki berjalan mendekati saya sambil mengayun-ayunkan sangkar burung ini. Di dasar sangkar ada tiga burung kecil dan liar, menggigil karena kedinginan dan ketakutan. Saya stop anak laki-laki itu dan saya tanyakan,

"Ada apa di sangkar itu, nak?"

"Hanya beberapa burung biasa" jawabnya.

"Apa yg akan kau lakukan pada mereka?" tanya saya.

"Bawa pulang ke rumah dan menggoda mereka," jawabnya.

"Saya akan menggoda mereka dan mencabuti bulu-bulu mereka supaya mereka saling berkelahi. Saya pasti akan menikmati saat itu."

"Tapi kamu nanti akan jadi bosan dengan burung-burung itu cepat atau lambat. Lantas apa yang akan kamu kerjakan?"

"Oh, saya
kan punya beberapa kucing," kata anak laki-laki itu.

"Mereka senang burung. Saya akan berikan burung-burung ini pada kucing-Kucing itu."

Pastur terdiam untuk beberapa saat. "Berapa yang kamu inginkan untuk burung-burung itu, nak?"

"Huh? Mengapa, Anda tidak mungkin menginginkan burung-burung ini kan, Pak. Mereka hanyalah burung biasa. Mereka tidak bisa bersiul merdu. Mereka bahkan tidak menarik!"

"Berapa?" Tanya pastur lagi.

Si anak laki-laki itu mengukur kemampuan si pastur dan menilai si pastur mungkin gila, dan menjawab, "$10?"

Pastur mengambil dari kantungnya dan mengeluarkan selembar uang kertas sepuluh dollar.

Ia taruh di tangan anak laki-laki itu! Dalam sekejap, anak laki-laki itu pun menghilang.

Si pastur memungut sangkar tersebut dan dengan lembut membawanya ke ujung gang dimana ada sebuah pohon dan tempat yang berumput. Sambil meletakkan sangkar itu, ia membuka pintunya, dan dengan mengetuk jeruji sangkar pelan-pelan membujuk burung-burung itu keluar.

Dan, itu tadi menjelaskan mengapa sangkar burung yang kosong ini di atas altar ini, lalu pastur mulai menceritakan cerita ini.

Suatu hari IBLIS dan TUHAN sedang bercakap-cakap. IBLIS baru saja datang dari Taman Firdaus, dan ia nampak rakus dan sedang membual.

"Ya tuan, saya baru saja melihat dunia penuh dengan orang-orang di bawah sana. Saya pasang perangkap, gunakan umpan yang saya tahu pasti mereka tak akan bisa menolak. Kenalah mereka semua!"

"Apa yg akan kau lakukan terhadap mereka?" tanya TUHAN.

IBLIS menjawab, "Oh, saya akan bersenang-senang! Saya akan ajarkan mereka bagaimana kawin dan cerai, bagaimana saling membenci dan menganiaya satu sama lain, bagaimana saling minum-minum dan merokok dan menghujat. Saya akan ajarkan mereka bagaimana membuat senjata dan bom, dan saling membunuh satu sama lain. Saya akan benar-benar senang!"

"Dan apa yang akan kau lakukan terhadap mereka setelah engkau selesai dengan itu semua?" tanya TUHAN.

"Oh, saya akan bunuh mereka," IBLIS menatap dengan bangga.

"Berapa yang kau inginkan untuk mereka?" tanya TUHAN.

"Oh, kau tidak mungkin menginginkan orang-orang itu. Mereka tidaklah baik. Mengapa, kau ambil mereka dan mereka hanya akan membencimu. Mereka akan meludahimu, menghujatmu dan membunuhmu. Kau tidak mau orang-orang ini!"

"Berapa? Ia bertanya lagi.

IBLIS menatap TUHAN dan menyeringai, "Semua darah, air mata, dan jiwamu."

TUHAN berkata, "Baiklah!"
Lalu Ia membayar harganya dengan darah, air mata dan jiwa-NYA.

Pastur memungut sangkar tersebut. Ia membuka pintunya dan ia melangkah dari mimbar.

Teman

Monday, March 26th, 2007

Teman adalah hadiah dari Tuhan buat kita. Seperti hadiah, ada yang bungkusnya bagus dan ada yang bungkusnya kurang bagus. Yang bungkusnya bagus punya wajah rupawan, atau kepribadian yang menarik. Yang bungkusnya kurang bagus punya wajah biasa saja, atau kepribadian yang biasa saja, atau malah menjengkelkan.
Seperti hadiah, ada yang isinya bagus dan ada yang isinya kurang bagus. Yang isinya bagus punya jiwa yang begitu indah sehingga kita terpukau ketika berbagi rasa dengannya, ketika kita tahan menghabiskan waktu berjam-jam saling bercerita dan menghibur, menangis bersama, dan tertawa bersama. Kita mencintai dia dan dia mencintai kita. Yang isinya kurang bagus punya jiwa yang terluka. Begitu dalam luka-
lukanya sehingga jiwanya tidak mampu lagi mencintai, justru karena ia tidak merasakan cinta dalam hidupnya. Sayangnya yang kita tangkap darinya seringkali justru sikap penolakan, dendam, kebencian,
iri hati, kesombongan, amarah, dll. Kita tidak suka dengan jiwa-jiwa semacam ini dan mencoba menghindar dari mereka. Kita tidak tahu bahwa itu semua BUKAN-lah karena mereka pada dasarnya buruk,
tetapi ketidakmampuan jiwanya memberikan cinta karena justru ia membutuhkan cinta kita, membutuhkan empati kita, kesabaran dan keberanian kita untuk mendengarkan luka-luka terdalam yang memasung jiwanya.

Bagaimana bisa kita mengharapkan seseorang yang terluka lututnya berlari bersama kita? Bagaimana bisa kita mengajak seseorang yang takut air berenang bersama? Luka di lututnya dan ketakutan terhadap airlah yang mesti disembuhkan, bukan mencaci mereka karena mereka tidak mau berlari atau berenang bersama kita.
Mereka tidak akan bilang bahwa "lutut" mereka luka atau mereka takut "air", mereka akan bilang bahwa mereka tidak suka berlari atau mereka akan bilang berenang itu membosankan, dll. It’s a defense
mechanism. Itulah cara mereka mempertahankan diri. Mereka tidak akan bilang: "Aku tidak bisa menari","Aku membutuhkan kamu","Aku kesepian","Aku butuh diterima","Aku ingin didengarkan".
Mereka akan bilang : "Menari itu tidak menarik","Tidak ada yang cocok denganku","Teman-temanku sudah lulus semua","Aku ini buruk, siapa yang bakal tahan denganku..","Kisah hidupku membosankan.."
Mereka semua hadiah buat kita, entah bungkusnya bagus atau jelek, entah isinya bagus atau jelek. Dan jangan tertipu oleh kemasan. Hanya ketika kita bertemu jiwa-dengan-jiwa, kita tahu hadiah sesungguhnya yang sudah disiapkan-Nya buat kita. Berikanlah makna di dalam kehidupan Anda bukan hanya untuk diri Anda sendiri saja melainkan juga untuk membahagiakan sesama manusia di dalam lingkungan kehidupan Anda. Berikanlah waktu Anda dengan digabung oleh rasa kasih!

Untuk mengetahui nilainya waktu SATU TAHUN tanyakanlah kepada mahasiswa
yang
tidak lulus ujian. Untuk mengetahui nilainya waktu SATU BULAN tanyakanlah kepada Ibu yang melahirkan bayi secara premature. Untuk mengetahui nilainya waktu SATU
MINGGU
tanyalah kepada redaksi dan editor dari majalah minggguan. Untuk mengetahui nilainya waktu SATU JAM tanyakanlah kepada seorang kekasih yang sedang menunggu kedatangan pacarnya. Untuk mengetahui nilainya waktu SATU
MENIT
tanyakanlah kepada orang yang terlambat untuk naik kereta api. Untuk mengetahui nilainya waktu SATU DETIK tanyakanlah kepada seorang yang barusan saja mengalami musibah karena kelalaian dalam sedetik saja.

Yesterday is history, tommorow is mistery, today is a gift! That’s why it’s called the present! Seorang sahabat sama seperti satu permata yang tak ternilai harganya.
Seorang kawan bisa membuat kita ceria, membuat kita terhibur. Mereka meminjamkan kupingnya kepada kita pada saat kita membutuhkannya. Mereka bersedia
membuka hati maupun perasaannya untuk berbagi suka dan duka dengan kita pada saat kita membutuhkannya. Maka dari itu janganlah buang waktu yang
Anda miliki, janganlah sia-sia akan waktu yang sedemikian berharganya. Bagikanlah
sebagian dari waktu yang Anda miliki untuk seorang kawan. Pasti waktu yang Anda
berikan tersebut akan berbalik kembali seperti juga satu lingkaran.

Dalam Tangan Siapa?

Saturday, March 24th, 2007

Bola basket dalam tanganku berharga $19.
Bola
basket dalam tangan Michael Jordan berharga $33 juta.
Tergantung ada dalam tangan siapa.

Baseball dalam tanganku berharga $6.
Baseball dalam tangan Mark McGuire berharga $19 juta.
Tergantung ada dalam tangan siapa.

Raket tenis tak ada gunanya dalam tanganku.
Raket tenis dalam tangan Venus Williams menghasilkan kemenangan dalam kejuaraan dunia.
Tergantung ada dalam tangan siapa.

Tongkat dalam tanganku menghalau binatang buas.
Tongkat dalam tangan Musa membelah lautan luas.
Tergantung ada dalam tangan siapa.

Ketapel dalam tanganku merupakan mainan anak-anak.
Ketapel dalam tangan Daud merupakan senjata dahsyat.
Tergantung ada dalam tangan siapa.

Lima roti dan dua ikan dalam tanganku menjadi beberapa potong roti isi.
Lima roti dan dua ikan dalam tangan Yesus memberi makan ribuan orang.
Tergantung ada dalam tangan siapa.

Paku-paku dalam tanganku menghasilkan sangkar burung.
Paku-paku
dalam tangan Yesus Kristus menghasilkan keselamatan bagi segenap umat manusia.
Tergantung ada dalam tangan siapa.

Kau lihat sekarang, segala sesuatu tergantung ada dalam tangan siapa.
Jadi serahkan segala masalahmu, kekhawatiranmu, ketakutanmu, harapan-harapanmu, impian-impianmu, keluargamu, kawan serta sahabat-sahabatmu dalam tangan Tuhan sebab…
segala sesuatu tergantung ada dalam tangan siapa.