Archive for February, 2007

Tiket Kereta

Thursday, February 22nd, 2007

Semenjak kecil, saya takut untuk memperingati hari ibu
karena tak berapa lama setelah saya lahir, saya dibuang oleh ibu saya.

Setiap kali peringatan hari ibu, saya selalu merasa tidak
leluasa karena selama peringatan hari ibu semua acara televisi menayangkan lagu
tentang kasih ibu, begitu juga dengan radio dan bahkan iklan biskuit pun juga
menggunakan lagu tentang hari ibu.

Saya tidak bisa meresapi lagu-lagu seperti itu. Setelah
sebulan lebih saya dilahirkan, saya ditemukan oleh seseorang di stasiun kereta
api Xin Zhu. Para polisi yang berada di
sekitar stasiun itu kebinggungan untuk menyusui saya. Tapi pada akhirnya,
mereka bisa menemukan seorang ibu yang bisa menyusui saya. Kalau bukan karena
dia, saya pasti sudah menangis dan sakit. Setelah saya selesai disusui dan
tertidur dengan tenang, para polisi pelan-pelan membawa saya ke De Lan Center
di kecamatan Bao Shan kabupaten Xin Zhu. Hal ini membuat para biarawati yang
sepanjang hari tertawa ria akhirnya pusing tujuh keliling.

Saya tidak pernah melihat ibu saya. Semasa kecil saya hanya
tahu kalau saya dibesarkan oleh para biarawati. Pada malam hari, di saat
anak-anak yang lain sedang belajar, saya yang tidak ada kerjaan hanya bisa
menggangu para biarawati. Pada saat mereka masuk ke altar untuk mengikuti kelas
malam, saya juga akan ikut masuk ke dalam.

Terkadang saya bermain di bawah meja altar, mengganggu
biarawati yang sedang berdoa dengan membuat wajah-wajah yang aneh. Dan lebih
sering lagi ketiduran sambil bersandar di samping biarawati. Biarawati yang
baik hati itu tidak menunggu kelas berakhir terlebih dahulu, tetapi dia
langsung menggendong saya naik untuk tidur. Saya curiga apakah mereka menyukai
saya karena mereka bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk keluar dari altar.

Walaupun kami adalah anak-anak yang terbuang, tetapi
sebagian besar dari kami masih memiliki keluarga. Pada saat tahun baru ataupun
hari raya, banyak sanak saudara yang datang menjemput. Sedangkan saya, dimana
rumah saya pun saya tidak tahu.

Juga karena inilah para biarawati sangat memperhatikan
anak-anak yang tidak memiliki sanak saudara sehingga mereka tidak
memperbolehkan anak-anak lain menggangu kami. Sejak kecil prestasi saya cukup
bagus dan para biarawati mencarikan banyak pekerja sosial untuk menjadi guru
saya. Kalau dihitung-hitung sudah cukup banyak yang menjadi pengajar saya.
Mereka adalah lulusan dan dosen dari universitas Jiao dan universitas Qing,
lembaga penelitian, dan insinyur. Guru yang mengajarkan saya IPA pada tahun
sebelumnya adalah seorang mahasiswa dan sekarang dia telah menjadi asisten
dosen. Guru yang mengajari saya Bahasa Inggris adalah seorang yang jenius.
Tidak heran sejak kecil kemampuan saya dalam berbahasa Inggris sudah bagus.

Para biarawati juga memaksa
saya untuk belajar piano. Semenjak kelas 4 SD, saya telah menjadi pianis di
gereja dan pada saat misa saya yang bertanggung jawab untuk bermain piano.
Karena didikan yang saya dapatkan di gereja, kemampuan berbicara saya pun juga
bagus. Di sekolah saya sering mengikuti lomba berpidato, pernah juga menjadi perwakilan
alumni untuk mengikuti debat.

Tetapi saya sama sekali tidak pernah mendapatkan peran yang
penting dalam acara peringatan hari ibu..

Walaupun saya suka memainkan piano tetapi saya mempunyai
satu prinsip. Saya tidak akan memainkan lagu-lagu yang berhubungan dengan hari
ibu, kecuali jika ada orang yang memaksa saya. Tetapi tetap saja saya tidak
akan memainkan lagu-lagu tersebut atas dasar keinginan saya sendiri.

Terkadang saya pernah berpikir, siapakah ibu saya? Saat
membaca novel, saya menebak bahwa saya adalah anak haram, ayah meninggalkan ibu
dan ibu yang masih muda akhirnya membuang saya.

Mungkin karena kepintaran saya yang cukup bagus, ditambah
lagi dengan adanya bantuan dari pengajar yang sepenuh hati membantu, saya
dengan lancar bisa lolos ujian masuk jurusan arsitektur di Universitas Xin Zhu.
Saya menyelesaikan kuliah sambil bekerja sambilan. Biarawati Sun yang
membesarkan saya terkadang datang mengunjungi saya. Jika teman-teman kuliah
saya yang bandel-bandel itu melihat biarawati Sun, mereka akan langsung berubah
menjadi kalem. Banyak teman-teman saya yang setelah mengetahui latar belakang
saya, datang menghibur saya. Mereka juga mengakui, bahwa saya mempunyai
pembawaan yang baik, dikarenakan saya dibesarkan oleh para biarawati.

 

Saat wisuda, orang tua dari mahasiswa lain semua
berdatangan, sedangkan keluarga saya satu-satunya yang hadir hanya biarawati
Sun.

 

Kepala jurusan saya bahkan meminta biarawati Sun untuk foto bersama.

Di masa wajib militer, saya kembali ke De Lan Center.
Tiba-tiba saja di hari itu biarawati Sun ingin membicarakan hal yang serius
dengan saya. Dia mengambil sebuah amplop surat dari raknya dan dia mempersilahkan saya untuk melihat isi-isi dari amplop surat itu.

Di dalam amplop surat itu, terdapat dua lembar tiket kereta.

Biarawati Sun berkata pada saya bahwa pada saat polisi
mengantar saya ke tempat ini, dalam baju saya terselip dua lembar tiket
perjalanan dari tempat tinggal asal ibu saya menuju stasiun Xin Zhu.

Tiket pertama adalah tiket bus dari salah satu tempat di
bagian selatan menuju ke Ping Dong. Dan tiket yang satunya lagi adalah tiket
kereta api dari Ping Dong ke Xin Zhu. Ini adalah tiket kereta api yang lambat.
Dari situ saya baru tahu bahwa ibu kandung saya bukanlah orang yang berada.

Biarawati Sun mengatakan pada saya bahwa mereka biasanya
tidak suka mencari latar belakang dari bayi-bayi yang telah ditinggalkan. Oleh
karena itu, mereka menyimpan dua tiket kereta ini dan memutuskan untuk
memberikannya pada saat saya sudah dewasa.

Mereka telah lama mengamati saya dan pada akhirnya mereka
menyimpulkan bahwa saya adalah orang yang rasional. Jadi seharusnya saya
mempunyai kemampuan untuk mengatasi masalah ini. Mereka pernah pergi ke kota kecil ini dan menemukan bahwa jumlah penduduk kota kecil itu tidak
banyak. Jadi jika saya benar-benar ingin mencari keluarga saya, seharusnya saya
tidak akan menemui kesulitan.

Saya selalu terpikir untuk bertemu dengan orang tua saya.
Tetapi setelah memegang dua tiket ini, mulai timbul keraguan dalam hati saya.
Saya sekarang hidup dengan baik, mempunyai ijazah lulusan S1, dan bahkan
memiliki seorang teman wanita yang akan menjadi teman hidup saya. Mengapa saya
harus melihat ke masa lalu? Mencari masa lalu yang benar-benar asing bagi saya.
Lagi pula besar kemungkinan kenyataan yang didapatkan adalah hal yang tidak
menyenangkan.

Biarawati Sun justru mendukung saya untuk pergi ke kota asal ibu saya. Dia
menggangap kalau saya akan memiliki masa depan yang cerah.

Jika teka-teki tentang asal-usul kelahiran saya tidak
dijadikan alasan sebagai bayangan gelap dalam diri saya, dia terus membujuk
diri saya untuk memikirkan kemungkinan terburuk yang akan saya hadapi, yang seharusnya
tidak akan menggoyahkan kepercayaan diri saya terhadap masa depan saya.

Saya akhirnya berangkat ke kota yang berada di daerah pegunungan, yang
bahkan tidak pernah saya dengar namanya. Dari kota Ping Dong saya harus naik kereta api selama satu jam lebih untuk tiba di sana.

Saat musim dingin, walaupun berada di daerah selatan, di
kota ini hanya terdapat satu kantor polisi, satu pos kota, satu Sekolah Dasar,
dan satu Sekolah Menengah Pertama, selain itu tidak ada lagi gedung yang
lainnya.

Saya bolak-balik ke kantor polisi dan pos kota untuk mencari data kelahiran saya.
Akhirnya saya menemukan dua dokumen yang berhubungan dengan diri saya. Dokumen
pertama adalah data mengenai kelahiran seorang anak laki-laki. Dokumen kedua
adalah data laporan kehilangan anak. Hilangnya anak itu adalah di saat hari
kedua saya dibuang satu bulan lebih setelah saya dilahirkan. Menurut keterangan
dari biarawati, saya ditemukan di stasiun Xin Zhu. Sepertinya saya sudah
menemukan data-data kelahiran saya.

Sekarang masalahnya adalah ayah saya telah meninggal dunia
dan ibu saya juga telah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu. Saya
mempunyai seorang kakak laki-laki. Kakak saya telah meninggalkan kota dan tidak tahu ke
mana perginya.

Karena ini adalah kota kecil, maka semua orang saling mengenal.

Seorang polisi tua di kantor polisi memberitahu saya, bahwa
ibu saya selalu bekerja di SMP. Dia lalu membawa saya menemui kepala SMP itu.

Kepala sekolah itu adalah seorang wanita dan beliau
menyambut saya dengan ramah. Dia membenarkan bahwa ibu saya pernah bekerja di
sini.

Dan beliau sangat baik hati, sedangkan ayah saya adalah
orang yang sangat malas. Saat pria yang lain pergi ke kota untuk mencari pekerjaan, hanya ayah yang
tidak mau pergi. Di kota kecil, ayah hanya bekerja sebagai pekerja musiman. Padahal di dalam kota sama sekali tidak
ada pekerjaan yang bisa dia kerjakan.

Oleh karena itu, seumur hidup dia hanya mengandalkan ibu
saya yang bekerja sebagai pekerja kasar. Karena tidak memiliki pekerjaan, suasana
hatinya menjadi sangat tidak baik. Jadi seringkali dia mabuk- mabukan. Dan
setelah mabuk, terkadang ayah memukul ibu atau kakak saya. Walaupun setelah itu
ayah merasa menyesal, kebiasaan buruk ini sangat susah untuk diubah. Ibu dan
saudara saya terusik seumur hidup olehnya. Pada saat kakak duduk di kelas dua
SMP, dia kabur dari rumah dan semenjak saat itu ayah tidak pernah kembali lagi.

Sepengetahuan ibu kepala sekolah, ibu itu memiliki anak
kedua. Namun setelah berumur satu bulan lebih, secara misterius anak itu
menghilang begitu saja. Saat ibu kepala sekolah tahu bahwa saya dibesarkan di
sebuah panti asuhan di daerah utara, beliau mulai menanyakan banyak hal kepada
saya dan saya menjelaskannya satu per satu.

Beliau mulai tergerak hatinya dan kemudian mengeluarkan
selembar amplop surat. Amplop ini ditinggalkan ibu saya sebelum ibu meninggal dan ditemukan di
samping bantalnya. Kepala sekolah berpikir bahwa di dalamnya pasti terdapat
barang-barang yang bermakna. Oleh karena itu, dia menyimpannya dan menunggu
sampai ada keluarganya yang datang mengambil.

Dengan tangan yang gemetar, saya membuka amplop itu. Dalam
amplop itu berisi tiket kereta api. Semua itu adalah tiket-tiket perjalanan
dari kota kecil
di bagian selatan ini menuju kecamatan Bao Shan kabupaten Xin Zhu, dan semuanya
disimpan dengan baik. Kepala sekolah memberitahu saya bahwa setiap setengah
tahun sekali, ibu saya pergi ke daerah di bagian utara untuk menemui salah satu
saudaranya.

Namun, tidak ada satu orangpun yang mengenal siapa saudara
itu.

Mereka hanya merasa bahwa setiap ibu saya kembali dari sana, suasana hatinya
menjadi sangat baik.

Ibu saya menganut agama Budha di hari tuanya. Hal yang
paling membanggakan baginya adalah ia berhasil membujuk beberapa orang kaya
beragama Budha untuk mengumpulkan dana sebesar NT 1.000.000 yang disumbangkan
ke panti asuhan yang dikelola oleh agama Katolik. Pada hari penyerahan dana,
ibu saya juga ikut hadir.

Saya merasa merinding seketika. Pada suatu kali, ada satu
bus pariwisata yang membawa para penganut agama Budha yang berasal dari daerah
selatan. Mereka membawa selembar cek bernilai NT 1.000.000 untuk disumbangkan
ke De Lan Center.

Para biarawati sangat
berterimakasih dan mereka mengumpulkan semua anak-anak untuk berfoto bersama
para penyumbang. Pada saat itu, saya yang sedang bermain basket. Saya juga ikut
dipanggil dan dengan tidak rela, saya pun ikut berfoto bersama mereka. Sekarang
saya menemukan foto itu di dalam amplop ini. Saya meminta orang untuk
menunjukkan yang mana ibu saya. Saya tersentak seketika. Yang lebih membuat
saya terharu adalah di dalamnya terdapat foto kenangan- kenangan wisuda saya
yang telah difotokopi. Foto itu adalah foto saya bersama teman-teman saya yang
sedang mengenakan topi toga. Saya juga termasuk di dalam foto itu. Ibu saya,
walaupun telah membuang saya, tetap datang mengunjungi saya. Mungkin saja dia
juga menghadiri acara wisuda saya.

Dengan suara tenang, kepala sekolah berkata, "Kamu
seharusnya berterima kasih pada ibumu. Dia membuangmu demi mencarikanmu
lingkungan hidup yang lebih baik. Jika kamu tetap tinggal di sini, bisa-bisa
kamu hanya lulus SMP, lalu pergi ke kota mencari kerja. Di sini hampir tidak ada orang yang mengecap pendidikan SMU.
Lebih gawatnya lagi, jika kamu tidak tahan terhadap pukulan dan amarah ayahmu
setiap hari, bisa-bisa kamu seperti kakakmu yang kabur dari rumah dan tidak
pernah kembali lagi." Kepala sekolah kemudian memanggil guru yang lain
untuk menceritakan hal-hal tentang saya.

Semuanya mengucapkan selamat karena saya bisa lulus dari
Universitas Guo Li. Ada seorang guru yang berkata, bahwa di sini belum ada
murid yang berhasil masuk ke Universitas Guo Li.

Saya tiba-tiba tergerak untuk melakukan sesuatu. Saya
bertanya kepada kepala sekolah apakah di dalam sekolah ada piano. Beliau
berkata bahwa pianonya bukan piano yang cukup bagus, tetapi terdapat organ yang
masih baru. Saya membuka tutup piano dan menghadap matahari di luar jendela dan
saya memainkan satu per satu lagu tentang ibu. Saya ingin orang-orang tahu,
walaupun saya dibesarkan di panti asuhan tetapi saya bukanlah yatim piatu
karena saya memiliki para biarawati yang baik hati dan senantiasa mendidik
saya.

Mereka bagaikan ibu yang membesarkan saya, mengapa saya
tidak bisa menganggap mereka selayaknya ibu saya sendiri? Dan juga ibu saya
selalu memperhatikan saya. Ketegasan dan pengorbanannya lah yang membuat saya
memiliki lingkungan hidup yang baik dan masa depan yang gemilang.

Prinsip yang saya tetapkan telah dilenyapkan. Saya bukan
saja bisa memainkan lagu peringatan hari ibu, tetapi saya juga bisa
menyanyikannya. Kepala sekolah dan para guru juga ikut bernyanyi.

Suara piano juga tersebar ke seluruh sekolah dan suara piano
saya pasti berkumandang sampai ke lembah. Di senja hari ini, penduduk- penduduk
di kota kecil
akan bertanya, "Kenapa ada orang yang memainkan lagu tentang ibu?"
Bagi saya hari ini adalah hari ibu.

Sebuah amplop yang dipenuhi tiket kereta api membuat saya
untuk selamanya tidak takut untuk memperingati hari ibu.

Ini adalah sebuah kisah nyata dari rektor Universitas Ji Nan
yang bernama Li Jia Tong.

"Berterima kasihlah kepada
mereka yang telah membesarkan dan membimbing kita, hingga kita dewasa dan
mencapai sebuah kesuksesan. Sekalipun mereka bukanlah ibu atau ayah kandung
yang telah membesarkan kita. Tetapi ingatlah selalu budi yang telah diberikan
kepada kita, hingga kita bisa seperti sekarang ini".

Have Faith…

Wednesday, February 21st, 2007

Kadang kita
bertanya dalam hati dan menyalahkan Tuhan, "apa yg telah saya lakukan
sampai saya harus mengalami ini semua?" atau "kenapa Tuhan membiarkan
ini semua terjadi pada saya?"

Here is a wonderful explanation…

Seorang anak memberitahu ibunya kalau segala sesuatu tidak berjalan seperti
yang dia harapkan. Dia mendapatkan nilai  jelek dalam raport, putus dengan
pacarnya, dan sahabat terbaiknya pindah ke luar kota.

Saat itu ibunya sedang membuat kue, dan menawarkan apakah anaknya mau mencicipinya,
dengan senang hati dia berkata, "Tentu saja, I love your cake."

"Nih, cicipi mentega ini," kata Ibunya menawarkan.

"Yaiks," ujar anaknya.

"Bagaimana dengan telur mentah?"

"You’re kidding me, Mom."

"Mau coba tepung terigu atau baking soda?"

"Mom, semua itu menjijikkan."

Lalu Ibunya menjawab, "ya, semua itu memang kelihatannya tidak enak jika
dilihat satu per satu. Tapi jika dicampur jadi satu melalui satu proses yang
benar, akan menjadi kue yang  enak."

Tuhan bekerja dengan cara yang sama. Seringkali kita bertanya kenapa Dia
membiarkan kita melalui masa-masa yang sulit dan tidak menyenangkan. Tapi Tuhan
tahu jika Dia membiarkan semuanya  terjadi satu per satu sesuai dengan
rancanganNya, segala sesuatunya akan menjadi sempurna tepat pada waktunya. Kita
hanya perlu percaya proses ini diperlukan untuk menyempurnakan hidup kita.

Tuhan teramat sangat mencintai kita. Dia mengirimkan bunga
setiap musim semi, sinar matahari setiap pagi. Setiap saat  kita ingin
bicara, Dia akan mendengarkan. Dia ada setiap saat kita membutuhkanNya, Dia ada
di setiap tempat, dan Dia memilih untuk berdiam di hati kita.

AnaLogi yang MenGaGumKan

Wednesday, February 21st, 2007

Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat. Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan.

Si tukang cukur bilang,"Saya tidak percaya Tuhan itu ada."

"Kenapa kamu berkata begitu ???" timpal si konsumen.

"Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan…. untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada. Katakan kepadaku jika Tuhan itu ada, adakah yang sakit?? Adakah anak terlantar?? Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi."

Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat. Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur. Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu, dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar atau "mlungker-mlungker istilah jawa-nya", kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.

Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata," Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR."

Si tukang cukur tidak terima," Kamu kok bias bilang begitu ?? Saya di sini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!"

"Tidak!" elak si konsumen.

"Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang diluar sana", si konsumen menambahkan.

"Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!", sanggah si tukang cukur.

"Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya", jawab si tukang cukur membela diri.

"Cocok!" kata si konsumen menyetujui.

"Itulah point utama-nya! Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA! Tapi apa yang terjadi… orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAUMENCARI-NYA. Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini."

Si tukang cukur terbengong !!!!

“Toko Grosir Surga” ( 2 Korintus 8:9 )

Thursday, February 15th, 2007

Suatu hari dalam perjalanan hidup saya, saya melihat sebuah
papan bertuliskan, "Toko Grosir Surga". Ketika saya berjalan dan
hendak masuk ke toko itu, pintu segera terbuka dengan begitu lebar. Sementara saya berdiri dalam kebingungan ketika berada
dalam toko tersebut, saya melihat banyak malaikat yang berdiri dimana-mana. Salah satu dari
mereka memberikan keranjang belanja kepada saya sambil berkata, "Anakku,
berbelanjalah dan pilih apa saja yang engkau mau, semua kebutuhan orang Katolik
tersedia di toko ini dan jika engkau tidak bisa membawa semua belanjaanmu,
engkau boleh kembali lagi kesini."

Pertama-tama saya mengambil KESABARAN
dan KASIH, karena keduanya berada di
rak yang sama. Di bawah rak itu saya melihat PENGERTIAN dan saya pun mengambilnya. "Kau selalu memerlukannya
dimanapun kau pergi," kata malaikat yang ada di depan saya.

Saya mengambil 2 kotak KEBIJAKSANAAN
dan sekantong IMAN. Saya juga tidak
melupakan ROH KUDUS karena itu
terletak di setiap tempat di dalam toko itu. Saya berhenti sejenak untuk
mengambil sebungkus KEKUATAN dan KETEGUHAN HATI untuk menolong dan
memampukan saya melalui perjuangan hidup ini. Meskipun keranjang saya sudah
penuh, tetapi saya teringat bahwa saya membutuhkan ANUGERAH.

Saya juga tidak melupakan KESELAMATAN karena
saya tahu itu merupakan barang
yang gratis di toko tersebut. Saya mengambil lebih, agar bias membagikannya
kepada orang lain yang membutuhkannnya.

Saya berpikir, "ini kan
cuma-cuma." Keranjang saya kini benar-benar penuh dan saya berjalan ke
kasir untuk membayar belanjaan. Saya berpikir, "Dengan semua yang saya beli, saya pasti bisa menyenangkan Tuhan saya." Di depan kasir saya
melihat DOA dan tanpa menunggu lebih lama saya segera mengambilnya karena saya tahu tanpa DOA saya akan segera jatuh dalam pencobaan.

DAMAI dan SUKACITA adalah dua hal penting yang hampir saya lupakan. Saya segera
mengambil satu keranjang kecil untuk keduanya dan untuk NYANYIAN PUJIAN.

Pada akhirnya saya berkata kepada malaikat, "Sekarang berapa yang harus saya
bayar?" Ia hanya tersenyum dan berkata, " Kamu tinggal membawanya
saja." Sekali lagi saya bertanya dalam kebingungan, "Sungguh, berapa
harga semua ini?" Ia tersenyum dan berkata, "Anakku, bertahun-tahun
yang lalu Yesus telah membayar semuanya untukmu."

Aku terharu, aliran-aliran bening membanjiri mataku.

Di dalam Iman semuanya sudah tersedia bagi kita yang percaya kepada YESUS. Kita tinggal mengambilnya kapan
dan berapa banyak yang kita mau. Alkitab berkata bahwa Ia datang supaya kita
memiliki hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. DIA menjadi miskin agar kita kaya dalam segala hal.

Saat ini "Toko Grosir Sorga" masih terbuka, dan YESUS mengharapkan agar kita semua datang dan menikmati hasil dari
pengorbananNYA (MANNA SORGAWI no 99
tahun IX).

KenTang

Sunday, February 11th, 2007

Ada salah satu TK (taman kanak-kanak) di Australia, pada suatu hari guru TK tersebut mengadakan "permainan" menyuruh tiap-tiap anak muridnya membawa kantong plastik transparan 1 buah dan kentang. Masing-masing kentang tersebut di beri nama berdasarkan nama orang yang dibenci, sehingga jumlah kentangnya tidak ditentukan berapa… tergantung jumlah orang2 yg dibenci.

Pada hari yang disepakati masing2 murid membawa kentang dalam kantong plastik. Ada yang berjumlah 2, ada yang 3 bahkan ada yang 5. Seperti perintah guru mereka tiap2 kentang diberi nama sesuai  nama orang yang dibenci. Murid2 harus membawa kantong plastik berisi kentang tersebut kemana saja mereka pergi bahkan ke toilet sekalipun selama 1 minggu.

Hari berganti hari kentang2 pun mulai membusuk, murid2 mulai mengeluh, apalagi yang membawa 5 buah kentang. Selain berat, baunya juga sedap. Setelah 1 minggu murid2 TK tersebut merasa lega karena penderitaan mereka akan segera berakhir.

Guru : "Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1 minggu?"

Keluarlah keluhan dari murid2 TK tersebut. Pada umumnya mereka tidak merasa nyaman harus membawa kentang2 busuk tersebut kemanapun mereka pergi. Guru pun menjelaskan apa arti dari "permainan" yang mereka lakukan.

Guru : "Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa-bawa. Kita tidak bisa memaafkan orang lain. Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk kemanapun kita pergi. Itu hanya 1 minggu. Bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup? Alangkah tidak nyamannya….."

Some friends come into our lives and quickly go, others stay for a while and leave footprints in our hearts that last forever…..

A Life with Love will have some thorns but a Life without Love will have no roses !!!

maLminG di KanToR

Saturday, February 10th, 2007

huhuhu… bentar lagi dah mo jam 6 sore & mpe skrg gua msh aja di kantor… sedih gak sih T_____T

kek nya malming kali ini bakal kelabu nih… padahal cuaca hr ini lg cerah2nya
tadinya gua berencana malam ini mo having fun ama tmn2 gua setelah seminggu gak bisa kemana2 krn dimana2 msh tergenang aer

ughh… gua malah mpe bela2in bawa handuk & peralatan mandi gua ke kantor
udeh mandi nih gua… baju juga dah keren… tinggal pergi doank
*padahal di rmh gak ada aer jd terpaksa mandi di kantor* =P =P
tp sayank… msh ada IT Consultant di depan meja gua… hikss >.<

untung aja inet-nya dah bisa lagi jd gua gak BeTe deh di kantor jam segini
HuH… bisa mpe jam berapa yee gua di kantor?!?
mana besok gua msh hrs ke kantor lagi… cyapeee dehh -__-"

Meja kerja = Kepribadian

Wednesday, February 7th, 2007

Paling tidak demikian menurut Liza Kanarek dalam bukunya
‘Everything’ s Organized’. Nah di bawah ini adalah empat jenis meja kerja yang
akan mengungkapkan rahasia kepribadian dan cara kerja Anda:

* Meja berantakan

Di atas meja ini, kertas-kertas, buku-buku, dokumen, alat tulis,
dan surat-surat dibiarkan dalam keadaan ’semrawut’. Tapi herannya pemilik meja
ini tidak merasa terganggu dengan kondisi mejanya. Sebenarnya pengguna meja ini
adalah pekerja yang kreatif tapi sayangnya mereka kurang bisa diandalkan.
Mereka kurang bisa bertanggung jawab terhadap tugas yang dibebankan padanya.
Mereka juga mudah panik dan sulit membagi pekerjaan berdasarkan skala
prioritas. Tetapi memang, jika moodnya lagi bagus, mereka bisa menyelesaikan
tugas dengan tuntas dan memuaskan, tapi tetap dengan meja yang berantakan.
Karena untuk tipe ini, agaknya akan sulit bekerja dengan kondisi meja yang
rapih.

 

* Meja kosong

Meja ini nyaris selalu terlihat kosong melompong. Di atasnya
hanya terdapat komputer dan telepon. Semua peralatan kerja lainnya seperti
kertas, alat tulis, kamus dan buku-buku diletakkan dalam laci meja, sekalipun
pemakainya sedang bekerja. Mereka baru mengambilnya jika ingin menggunakannya.
Pemilik meja ini menunjukkan pribadi yang serius dan disiplin dalam bekerja.
Jarang sekali mereka beranjak dari kursi sebelum pekerjaan selesai. Mereka juga
tidak terpengaruh pada lelucon apapun yang dilontarkan ketika tengah bekerja.
Karena memang, pada dasarnya ’sense of humor’ mereka sangat rendah. Sehingga
mereka pun cenderung kaku dalam pergaulan.

* Meja friendly

Meja jenis ini terlihat semarak. Di atasnya terdapat
foto-foto pribadi dan keluarga, boneka lucu, dan berbagai macam pernak-pernik.
Alat tulis dan buku-buku disusun dalam wadah yang unik dengan warna-warna
ceria. Mereka yang memiliki meja ini adalah orang yang terbuka dan humoris,
mereka seringkali menjadi penghibur orang-orang sekantor. Walaupun terlihat santai,
tapi mereka cukup kreatif. Mereka juga cukup bisa diandalkan dan bertanggung
jawab terhadap semua tugas yang dibebankan padanya. Mereka bisa menjadi sahabat
bagi teman-temannya di kantor.

* Meja formal

Meja ini selalu tampak rapih dan bersih. Buku-buku dan
file-file dokumen tersusun rapih di atas meja. Apa yang terlihat di meja adalah
segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan. Mereka yang memiliki meja ini
termasuk orang yang serius dalam bekerja. Tetapi mereka bukanlah orang yang
‘kaku’, mereka cukup fleksibel menghadapi rekan-rekan di kantor. Mereka bisa
membedakan dengan baik kapan waktu untuk bekerja dan kapan waktu untuk
bercanda. Mereka juga cukup dewasa dalam menghadapi setiap masalah.


Nah mulai sekarang coba perhatikan deh meja rekan-rekan Anda
di kantor. Siapa tau dengan mengetahui profil meja rekan Anda, Anda lebih mudah
untuk mengetahui siapa yang paling cocok bekerja sama dengan Anda. Lalu
bagaimana dengan meja Anda sendiri…?

BanJiiiiiR

Wednesday, February 7th, 2007

hoaaaa…. akhirnya bisa onlen juga… hiks dr td pagi sibuk bgt huhuhu T.T

hihihi… dr hr sabtu kmrn gua gak ngantor soale kejebak banjir =P =P

daerah rmh sih gak banjir… akses jalan ke kantornya tuh yg dah kek danao… makanya gua ngetem aja di rmh… gak bisa ke ktr sih hahaha

baru deh hr ini tuh jalan kering & gua bisa ngantor

gak enak juga sih madol kelamaan wkwkwk… lumayan lho gak masuk 3 hari… tp lama2 bete juga sih di rmh… bis gak bisa kemana2 juga… dah gitu sering mati lampu lagi >.<

kerjaan gua yah paling2 cuma muter2 aja sambil maen banjir2an hahaha

untung aja gak kena kutu aer =P =D

kmrn aja gua keliling2 liat keadaan di luar sambil naek sepeda banjir2an

beyy… ternyata parah euyy

daerah rmh gua tuh kek daerah yg terisolasi dr dunia luar… halah kek nya terlalu hiperbola deh kata2nya huahahaha

iyah tuh daerah rmh gua gak banjir soale pintu aer di depan & belakang ditutup… makanya aer gak bisa masuk ke daerah rmh gua

enak kan… cuma yah gitu deh… gak tau apa2 soal keadaan di luar

begitu bangun pagi langsung deh buru2 liat keadaan di depan… soale di daerah rmh kan kesannya gak banjir huehehe xD~

uhmm… nih cuaca kek nya mo ujan lagi nih

duhh… bakalan banjir lagi nih… pa lagi denger2 katanya banjir yg kmrn tuh blom apa2… bakal ada banjir yg lbh gede lg… hoekk >.<

*siap2 baju selam & perahu karet*

nih speedy knp sih? koneksi lelet bgt kek keong… mana putus2 mulu lagi

cihh… dr td mo buka profile fs gua gak bisa2… cuma bisa posting blog doank

swt deh -___-"