Rancangan Damai Sejahtera Tuhan Bagi Tabita
Sumber Kesaksian: Tabita
Wulandari
Tabita lahir dari keluarga yang kurang mampu. Ayahnya
hanyalah seorang penjahit kecil di Magelang. Untuk menopang ekonomi keluarga
ibunya juga harus membantu ayahnya dengan berjualan di warung.
Karena ditipu oleh orang, orang tua Tabita terbelit oleh hutang yang akhirnya
membawa mereka ke jurang kemiskinan. Setiap harinya datang penagih hutang dan
mau tidak mau Tabita harus berbohong kepada mereka. Jika datang para penagih
hutang maka ibu atau ayahnya akan sembunyi di bawah kolong meja atau sembunyi
di kamar mandi, dan kejadian itu berlangsung lama. Bahkan untuk melunasi hutang
tersebut kedua orang tuanya pernah berniat menjual ginjalnya, namun Tuhan tidak
mengijinkannya. Ketika ada peminat, golongan darah mereka tidak ada yang cocok.
Tabita anak ke-2 dari 5 bersaudara. Dengan keadaan demikian, untuk kehidupan
sehari-hari dan membayar biaya sekolah mereka harus menghadapi pergumulan yang
berat. Hal itu semakin dirasakan ketika ia memasuki bangku SMP. Saat itu mereka
sampai tidak bisa membayar uang sekolah. Namun Tabita tergolong anak yang
memiliki prestasi di atas rata-rata di sekolahnya, sehingga ia mendapat
beasiswa sampai lulus SMA.
Mengenal Tuhan Yesus secara pribadi
Ketika masa tenggang waktu kelulusan SMA menuju perguruan tinggi, seorang
temannya memberikan Tabita sebuah buku yang menjadi momentum awal proses
kelahiran barunya.
Buku itu menceritakan tentang kesaksian seorang anak Tuhan di Jepang yang
mengorbankan dirinya demi menyelamatkan orang-orang di dalam kereta api. Buku
itu begitu menyentuh hatinya. Saat itu ia menangis merasakan jamahan Tuhan di
dalam hidupnya untuk pertama kalinya.
Saat itu juga ia menyerahkan hidupnya kepada Tuhan apapun panggilan Tuhan di
dalam hidupnya. Doanya, "Tuhan, aku mau Engkau pakai aku jadi
hambaMu." Saat itu ia memutuskan untuk masuk sekolah Alkitab. Namun Tuhan
punya rencana lain di dalam hidupnya. Pendaftaran di sekolah itu sudah ditutup.
Tabitapun menangis dan bertanya apa maksud Tuhan di balik semua ini.
Kuliah karena mukjizat
Suatu hari seorang teman ayahnya dari Jogya datang ke Magelang untuk
mengunjungi keluarga mereka. Di situ mereka sharing mengenai apa yang mereka
alami hari-hari ini. Akhirnya sahabat ayahnya itu mengajak Tabita ke Jogya
untuk ikut tes UMPTN.
Puji Tuhan, Tabita diterima di FISIP UGM tahun 1994. Namun keluarganya tidak
memiliki biaya untuk melanjutkan studinya. Di situ Tabita menangis lagi di kaki
Tuhan supaya Tuhan buka jalan. Oleh kemurahan Tuhan, sahabat ayahnya itu
menolong keluarga ini untuk membayar biaya pendaftaran supaya Tabita dapat
meneruskan studinya ke perguruan tinggi.
Di kampus inilah Tabita bertemu dengan kakak rohaninya yang membimbingnya untuk
lahir baru dan kemudian ikut di dalam pemuridan di persekutuan kampus Maranatha
yang dikomandoi oleh Eriel Siregar (eks-host SOLUSI).
Tiga tahun setengah Tabita hidup dari satu mukjizat ke mukjizat lainnya. Ia
hidup dan kuliah dari ketidakmampuan orangtuanya untuk membiayainya. Satu bulan
sebelum wisuda, Tabita diterima bekerja sebagai tenaga accounting merangkap
sekretaris di sebuah diskotek di Jogya. Bidang pekerjaan yang berbeda dengan
ilmu yang dipelajarinya sewaktu kuliah. Tabita tidak pernah memiliki tabungan.
Karena hidupnya dari hari ke hari sangat bergantung kepada pemeliharaan Tuhan.
"Hidup saya bergantung kepada Tuhan seperti bergantung pada selembar
benang. Kalau bukan pertolongan Tuhan, tidak tahu bagaimana hidup saya."
Di diskotek itu Tabita dianggap orang aneh karena gaya hidupnya tidak seperti
mereka. Mereka bilang Tabita salah masuk kerja di sini. Meskipun kerja di
tempat yang dianggap orang negative, tapi Tabita hidup benar dan tidak mau
neko-neko karena tujuan utamanya adalah menghidupi keluarganya.
Pencobaan demi pecobaan dihadapi Tabita
Setelah tiga belas bulan bekerja di diskotek tersebut, Tabita dihadapkan pada
pergumulan yang berat. Ibunya harus masuk penjara selama 6 bulan dengan tuduhan
Kristenisasi. Sedangkan ibunya menjadi salah satu tulang punggung keluarga
berhubung ayahnya suka ditipu ketika bekerja atau mencoba membuka usaha
kecil-kecilan.
Waktu itu adik-adik dan kakak Tabita semuanya masih sekolah dan sedang kuliah.
Hanya Tabita sendiri yang sudah lulus kuliah dan sudah bekerja. Ketika
mendengar berita itu Tabita menangis karena begitu berat beban yang harus
ditanggungnya. Dialah yang harus menggantikan peran ibunya di dalam menghidupi
keluarganya. Sementara keluarganya memiliki banyak hutang yang harus segera
diselesaikan.
Tahun 1998, suatu hari Tabita melihat ada lowongan di Departemen Tenaga Kerja.
Waktu itu Depnaker membuka dua lowongan, yaitu menjadi pekerja pabrik di
Malaysia atau menjadi pembantu rumah tangga di Singapura.
Karena pertimbangan mendapatkan penghasilan yang lebih besar, Tabita memilih
menjadi pembantu rumah tangga di Singapura. Padahal waktu itu di televisi
sedang hangat pemberitaan banyak pembantu rumah tangga asal Indonesia yang
mendapat perlakuan kekerasan fisik dan pelecehan seksual. Tabita sempat
mengalami ketakutan dan hanya bisa berserah kepada Tuhan. Semua itu dilakukannya
demi keluarganya.
Akhirnya Tabita berhenti kerja dan ia diberi uang pesangon. Setelah itu ia
masuk masa karantina di Cirebon untuk menunggu diberangkatkan ke Singapura.
Tuhan menunjukkan perkenanNya atas Tabita. Baru 5 hari masuk karantina Tabita sudah
memiliki majikan. Akhirnya pada hari ke-20, tepat pada tanggal 29 November 1998
Tabita berangkat ke Singapura, sementara calon TKW yang lain harus menunggu
berbulan-bulan untuk diberangkatkan.
Saat mau berangkat ke Singapura, Tabita berdoa supaya Tuhan memberikan majikan
yang baik. Doanya dijawab Tuhan karena selama bekerja 4 tahun majikannya yang
penganut Budha itu memang sangat baik dan memperlakukannya seperti anggota
keluarga sendiri.
Selama bekerja 4 tahun di Singapura, setiap bulan Tabita mengirim hampir
seluruh gajinya kepada keluarganya di Magelang. Yang ada dipikirannya hanyalah
apakah keluarganya masih bisa makan dan adik-adiknya masih bisa sekolah? Bagi
Tabita, ia merasa cukup karena setiap hari bisa menikmati makanan yang wajar
dan tempat tinggal yang layak di rumah majikannya itu. Tapi bagaimana
keluarganya di Magelang? Belum lagi keluarganya memiliki banyak hutang yang
harus diselesaikan.
Namun majikannya sangat baik hati. Mereka selalu mengetahui jika Tabita
memiliki pergumulan dan beban yang berat. Mereka menjadi sahabatnya dan selalu
menguatkan, menghibur serta memberikan kata-kata motivasi agar Tabita kuat
menjalani proses hidupnya.
Majikannya memperlakukan Tabita seperti keluarga sendiri. Di dalam keluarga
besar dan rekan-rekannya, mereka tidak menganggap Tabita seorang pembantu rumah
tangga di keluarga mereka. Bahkan mereka melewati makan malam bersama. Di salah
satu sisi Tabita menghadapi pembentukan karakter lewat anak majikannya dan
nenek tersebut, tapi di sisi lain ia merasa dihibur dengan kebaikan hati
majikannya. Mereka mau memberikan telinga mereka untuk mendengar segala curahan
hati Tabita. Selama 4 tahun bekerja di Singapura, ternyata Tuhan mempersiapkan
Tabita untuk satu masa di mana ia akan mendapat berkat yang besar di kemudian
hari. Tanpa ia sadari selama 4 tahun di Singapura, Tabita menguasai percakapan
dalam bahasa Inggris dengan baik. Selain itu ia mendapat banyak pelajaran hidup
dari majikannya.
Namun tidak semua harapannya tercapai. Adiknya yang ia support secara finansial
untuk kuliah ternyata memilih menikah ketika duduk di semester IV. Uang yang ia
kirim kepada orang tuanya setiap bulan ternyata tidak dapat melunasi
hutang-hutang keluarganya. Semua yang dilakukannya seakan-akan sia-sia dan
tidak menghasilkan apa-apa. Sampai Tabita sendiri tidak dapat melihat gambaran
masa depannya itu seperti apa. Akhirnya tepat pada tanggal 29 November 2002
Tabita pulang ke Indonesia.
Tabita dipersiapkan Tuhan
Sampai di Indonesia Tabita melamar ke 5 perusahaan setelah melihat lowongan di
koran. Tabita di diterima bekerja di perusahaan direct marketing yaitu PT Arco
Prima yang berkantor di Menara Imperium Kuningan. Tabita hanya bekerja selama 2
bulan di tempat ini karena jam kerjanya begitu padat. Ia nyaris tidak punya waktu
karena pagi-pagi sudah harus berangkat ke kantor dari tempat tinggalnya di
Cijantung ke Kuningan. Begitu juga pulangnya sudah larut malam. Waktu saat
teduh dan membaca Alkitabnya ia lakukan di bis. Kemudian ia melamar pekerjaan
di tempat lain dan akhirnya diterima bekerja di PT Andi Putra, sebuah
perusahaan forwarder di daerah Pangeran Jayakarta. Di perusahaan ini Tabita
mendapat gaji lebih tinggi dari karyawan lainnya.
Kerinduan Tabita agar kehidupan keluarganya terangkat tidak pernah padam. Ia
mencoba menggugah hati ibunya agar mau pindah ke Jakarta. Karena ibunya bisa
membuka warung. Dengan berat hati karena harus meninggalkan suami dan
anak-anaknya untuk sementara waktu, akhirnya sang ibupun berangkat ke Jakarta
untuk membuka jalan bagi anggota keluarga yang lain di kemudian hari.
Dan Tuhan buka jalan. Akhirnya ada seorang teman Tabita yang mau mengontrakkan
kiosnya di daerah Mangga Dua. Namun kendalanya dari mana uang untuk membayar
kontrakan tersebut? "Setiap kali ada masalah, pasti Tuhan sedang mau
membawa kita ke tempat yang lebih tinggi," ungkap Tabita. Pimpinannya
bersedia membantu Tabita dengan memberikan pinjaman. Namun pada akhirnya
pimpinannya berkata bahwa Tabita tidak perlu mengembalikan pinjaman tersebut.
Akhirnya Tabita dan ibunya dapat menempati kios sekaligus tempat untuk mereka
tinggal. Ketika menempati kios yang baru itu Tabita juga mulai mengajak
kakaknya tinggal bersama mereka.
Dari PT Andi Putra, Tabita kemudian memantapkan karirnya di Monash University.
Belum lama bekerja di sini, Tabita mendapat kesempatan mendampingi mahasiswa
homestay study ke Melbourne, Australia. Sebuah perjalanan yang belum pernah
terlintas di pikirannya sebelumnya.
Di dalam hidupnya Tabita memiliki 3 impian, yaitu membangun rumah untuk orang
tuanya, membangun panti asuhan dan membangun sebuah gereja di dekatnya. Tuhan
mulai mewujudkan impiannya itu. Tuhan menaruh keyakinan di dalam hatinya bahwa
tahun 2004 Tuhan akan memberikan keluarga ini sebuah rumah. Dan hal itu
diceritakan kepada teman-temannya. Namun tidak semua respon teman-temannya itu
baik karena mereka tahu kondisi Tabita yang sebenarnya. Tabita justru
memberanikan diri untuk survey rumah di beberapa perumahan. Tabita berdoa,
"Tuhan, bagian saya kan mencari rumahnya, bagian Tuhan menyediakan uangnya."
Mimpi yang mulai digenapi
Suatu hari, Minggu, 29 Agustus 2004 Tabita bersaksi di sebuah gereja (GBI PRJ
Kemayoran). Kesaksian ini dia anggap sebagai hadiah ulang tahun buat Tuhan. Di
situ Tabita menyaksikan perjalanan hidupnya. Ternyata kesaksiannya diperhatikan
oleh seorang pejabat penting di President University. Orang ini memberikan
kartu namanya dan menawarkan mungkin mereka bisa bekerja sama. Singkat cerita
Tabita diterima bekerja di President University.
Rumah impian, beasiswa untuk pendidikan adik-adiknya dan pelayanan anak-anak
menuju visi memiliki panti asuhan sendiriā¦
Ternyata apa yang menjadi impian Tabita selama ini mulai menjadi kenyataan.
Dengan diterimanya Tabita sebagai manajer marketing di President University,
otomatis ia harus pindah ke Cikarang. Dalam waktu bersamaan Tuhan sudah
menyediakan sebuah rumah yang Dia janjikan. Tabita jatuh hati pada sebuah rumah
yang ada di samping sungai. Ia sudah membayangkan di situ ia nanti akan
mendirikan sebuah panti asuhan dan sebuah gereja kecil. Rumah itu kebetulan
hendak dipindah tangankan oleh pemiliknya dan dihargai sebesar Rp.35 juta.
Namun dari mana dapat uang sebesar itu? Setelah melewati pergumulan Puji Tuhan,
dengan tabungan yang ada ditambah dengan berkat yang dikasih oleh teman-temannya
yang tahu Tabita membutuhkan tambahan uang untuk membeli rumah, akhirnya mereka
dapat menempati rumah itu tepat 19 Desember 2004. Sejak saat itu orang tuanya
dan saudara-saudaranya dapat berkumpul bersama kembali di rumah impian hadiah
dari Tuhan.
Kemurahan dan perkenanan Tuhan tidak hanya sampai di situ. Kedua adik Tabita
mendapatkan pendidikan yang terbaik di President University karena mereka
memiliki prestasi yang baik. Kedua adiknya mendapat beasiswa dan pelajaran
standar international di sekolah tersebut.
Impian Tabita untuk mendirikan panti asuhan telah dimulainya dengan mengajar
anak-anak kampung di dekat rumahnya itu setiap hari Minggu sore. Tabita
mengumpulkan mereka di depan halaman rumahnya. Mereka diajar membaca, menulis,
menyanyi dan hidup sehat. Bahkan anak-anak yang diasuhnya itu sudah pernah
tampil di depan Presiden SBY sewaktu berkunjung ke President University.
Tabita Wulandari, hidupnya kini menjadi inspirasi bagi banyak orang. Seorang
wanita tegar yang tidak hanya berani bermimpi. Akan tetapi berani berjuang
sampai mimpi tersebut layak untuk dihidupi. (joe)
"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan
apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan
damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari
depan yang penuh harapan." (Yeremia 29:11)