THE ROOM

July 10th, 2008 by cornell

Cerita di bawah ini tentang
Brian Moore yang berusia 17 tahun, ditulis olehnya sebagai tugas sekolah.
Pokok bahasannya tentang sorga itu seperti apa.
Aku membuat mereka terperangah,
kata Brian kepada ayahnya, Bruce.
Cerita
itu bikin heboh. Tulisan itu seperti sebuah bom saja. Itulah yang terbaik
yang pernah aku tulis.

Dan itu juga merupakan tulisannya yang terakhir.

Orangtua Brian telah melupakan esai yang ditulis Brian ini sampai
seorang saudara sepupu menemukannya ketika ia membersihkan kotak loker
milik remaja
itu di SMA Teays Valley, Pickaway County, Ohio.

Brian baru saja meninggal beberapa jam yang lalu, namun orangtuanya mati-matian
mencari setiap barang peninggalan Brian: surat-surat dari teman-teman sekolah
dan gurunya, dan PR-nya. Hanya dua bulan sebelumnya, ia telah menulis sebuah
esai tentang pertemuannya dengan Tuhan Yesus di suatu ruang arsip yang
penuh kartu-kartu yang isinya memerinci setiap saat dalam kehidupan remaja
itu. Tetapi baru setelah kematian Brian, Bruce dan Beth, mengetahui bahwa
anaknya telah menerangkan pandangannya tentang sorga.

Tulisan itu menimbulkan suatu dampak besar sehingga orang-orang ingin membagikannya.
Anda
merasa seperti ada di sana ,

kata pak Bruce Moore. Brian meninggal pada tanggal 27 Mei, 1997, satu hari
setelah Hari Pahlawan Amerika Serikat. Ia sedang mengendarai mobilnya pulang
ke rumah dari rumah seorang teman ketika mobil itu keluar jalur Jalan Bulen
Pierce di Pickaway County dan menabrak suatu tiang. Ia keluar dari mobilnya
yang ringsek tanpa cedera namun ia menginjak kabel listrik bawah tanah
dan kesetrum.

Keluarga Moore membingkai satu salinan esai yang ditulis Brian dan menggantungkannya
pada dinding di ruang keluarga mereka. Aku
pikir Tuhan telah memakai Brian untuk menjelaskan suatu hal. Aku kira kita
harus menemukan makna dari tulisan itu dan memetik manfaat darinya,

kata Nyonya Beth Moore tentang esai itu.

Nyonya Moore dan suaminya ingin membagikan penglihatan anak mereka tentang
kehidupan setelah kematian. Aku
bahagia karena Brian. Aku tahu dia telah ada di sorga. Aku tahu aku akan
bertemu lagi dengannya.

Inilah esai Brian yang berjudul Ruangan.



Di antara sadar dan mimpi, aku menemukan diriku di sebuah ruangan.
Tidak ada ciri yang mencolok di dalam ruangan ini kecuali dindingnya
penuh dengan kartu-kartu arsip yang kecil. Kartu-kartu arsip itu
seperti yang ada di perpustakaan yang isinya memuat judul buku menurut
pengarangnya atau topik buku menurut abjad.

Tetapi arsip-arsip ini, yang membentang dari dasar lantai ke atas sampai
ke langit-langit dan nampaknya tidak ada habis-habisnya di sekeliling dinding
itu, memiliki judul yang berbeda-beda.

Pada saat aku mendekati dinding arsip ini, arsip yang pertama kali menarik perhatianku berjudul Cewek-cewek
yang Aku Suka
.
Aku mulai membuka arsip itu dan membuka kartu-kartu itu. Aku cepat-cepat
menutupnya, karena terkejut melihat semua nama-nama yang tertulis di dalam
arsip itu. Dan tanpa diberitahu siapapun, aku segera menyadari dengan pasti
aku ada dimana.

Ruangan tanpa kehidupan ini dengan kartu-kartu arsip yang kecil-kecil merupakan
sistem katalog bagi garis besar kehidupanku. Di sini tertulis tindakan-tindakan
setiap saat dalam kehidupanku, besar atau kecil, dengan rincian yang tidak
dapat dibandingkan dengan daya ingatku. Dengan perasaan kagum dan ingin
tahu, digabungkan dengan rasa ngeri, berkecamuk di dalam diriku ketika
aku mulai membuka kartu-kartu arsip itu secara acak, menyelidiki isi arsip
ini. Beberapa arsip membawa sukacita dan kenangan yang manis; yang lainnya
membuat aku malu dan menyesal sedemikian hebat sehingga aku melirik lewat
bahu aku apakah ada orang lain yang melihat arsip ini.

Arsip berjudul Teman-Teman
ada di sebelah arsip yang bertanda
Teman-teman
yang Aku Khianati
.
Judul arsip-arsip itu berkisar dari hal-hal biasa yang membosankan sampai
hal-hal yang aneh.
Buku-buku
Yang Aku Telah Baca
.
Dusta-dusta
yang Aku Katakan
.
Penghiburan
yang Aku Berikan
.
Lelucon
yang Aku Tertawakan
.
Beberapa judul ada yang sangat tepat menjelaskan kekonyolannya:
Makian
Buat Saudara-saudaraku
.

Arsip lain memuat judul yang sama sekali tak membuat aku tertawa: Hal-hal yang Aku Perbuat dalam Kemarahanku.,
Gerutuanku
terhadap Orangtuaku
.
Aku tak pernah berhenti dikejutkan oleh isi arsip-arsip ini. Seringkali
di sana ada lebih banyak lagi kartu arsip tentang suatu hal daripada
yang
aku bayangkan. Kadang-kadang ada yang lebih sedikit dari yang aku
harapkan. Aku terpana melihat seluruh isi kehidupanku yang telah aku
jalani seperti
yang direkam di dalam arsip ini.

Mungkinkah aku memiliki waktu untuk mengisi masing-masing arsip ini
yang berjumlah ribuan bahkan jutaan kartu? Namun setiap kartu arsip itu
menegaskan
kenyataan itu. Setiap kartu itu tertulis dengan tulisan tanganku
sendiri.
Setiap kartu itu ditanda-tangani dengan tanda tanganku sendiri.

Ketika aku menarik kartu arsip bertanda Pertunjukan-pertunjukan
TV yang Aku Tonton
,
aku menyadari bahwa arsip ini semakin bertambah memuat isinya. Kartu-kartu
arsip tentang acara TV yang kutonton itu disusun dengan padat, dan setelah
dua atau tiga yard, aku tak dapat menemukan ujung arsip itu. Aku menutupnya,
merasa malu, bukan karena kualitas tontonan TV itu, tetapi karena betapa
banyaknya waktu yang telah aku habiskan di depan TV seperti yang ditunjukkan
di dalam arsip ini.

Ketika aku sampai pada arsip yang bertanda Pikiran-Pikiran
yang Ngeres
,
aku merasa merinding di sekujur tubuhku. Aku menarik arsip ini hanya
satu inci, tak mau melihat seberapa banyak isinya, dan menarik sebuah
kartu
arsip. Aku terperangah melihat isinya yang lengkap dan persis. Aku
merasa
mual mengetahui bahwa ada saat di hidupku yang pernah memikirkan
hal-hal
kotor seperti yang dicatat di kartu itu. Aku merasa marah.

Satu pikiran menguasai otakku: Tak ada seorangpun yang boleh
melihat isi kartu-kartu arsip ini. Tak ada seorangpun yang boleh
memasuki ruangan ini! Aku harus menghancurkan arsip-arsip ini! Dengan
mengamuk bagai orang gila
aku mengacak-acak dan melemparkan kartu-kartu arsip ini. Tak peduli
berapa
banyaknya kartu arsip ini, aku harus mengosongkannya dan membakarnya.
Namun
pada saat aku mengambil dan menaruhnya di suatu sisi dan menumpuknya di
lantai, aku tak dapat menghancurkan satu kartupun. Aku mulai menjadi
putus
asa dan menarik sebuah kartu arsip, hanya mendapati bahwa kartu itu
sekuat
baja ketika aku mencoba merobeknya. Merasa kalah dan tak berdaya, aku
mengembalikan
kartu arsip itu ke tempatnya. Sambil menyandarkan kepalaku di dinding,
aku mengeluarkan keluhan panjang yang mengasihani diri sendiri.

Dan kemudian aku melihatnya. Kartu itu berjudul Orang-orang
yang Pernah Aku Bagikan Injil
.
Kotak arsip ini lebih bercahaya dibandingkan kotak arsip di sekitarnya,
lebih baru, dan hampir kosong isinya. Aku tarik kotak arsip ini dan
sangat
pendek, tidak lebih dari tiga inci panjangnya. Aku dapat menghitung
jumlah
kartu-kartu itu dengan jari di satu tangan. Dan kemudian mengalirlah
air mataku. Aku mulai menangis. Sesenggukan begitu dalam sehingga
sampai terasa
sakit. Rasa sakit itu menjalar dari dalam perutku dan mengguncang
seluruh
tubuhku. Aku jatuh tersungkur, berlutut, dan menangis. Aku menangis
karena
malu, dikuasai perasaan yang memalukan karena perbuatanku. Jajaran
kotak
arsip ini membayang di antara air mataku. Tak ada seorangpun yang boleh
melihat ruangan ini, tak seorangpun boleh.

Aku harus mengunci ruangan ini dan menyembunyikan kuncinya. Namun ketika aku menghapus air mata ini, aku melihat Dia.

Oh, jangan! Jangan Dia! Jangan di sini. Oh, yang lain boleh asalkan
jangan Yesus! Aku memandang tanpa daya ketika Ia mulai membuka
arsip-arsip itu dan membaca kartu-kartunya. Aku tak tahan melihat
bagaimana reaksi-Nya. Dan pada saat aku memberanikan diri memandang
wajah-Nya, aku melihat dukacita
yang lebih dalam dari pada dukacitaku. Ia nampaknya dengan intuisi yang
kuat mendapati kotak-kotak arsip yang paling buruk.

Mengapa Ia harus membaca setiap arsip ini? Akhirnya Ia berbalik dan memandangku
dari seberang di ruangan itu. Ia memandangku dengan rasa iba di mata-Nya.
Namun itu rasa iba, bukan rasa marah terhadapku. Aku menundukkan kepalaku,
menutupi wajahku dengan tanganku, dan mulai menangis lagi. Ia berjalan
mendekat dan merangkulku. Ia seharusnya dapat mengatakan banyak hal.
Namun Ia tidak berkata sepatah katapun. Ia hanya menangis bersamaku.

Kemudian Ia berdiri dan berjalan kembali ke arah dinding
arsip-arsip. Mulai dari ujung yang satu di ruangan itu, Ia mengambil
satu arsip dan, satu
demi satu, mulai menandatangani nama-Nya di atas tanda tanganku pada
masing-masing
kartu arsip. Jangan!
seruku bergegas ke arah-Nya. Apa yang dapat aku katakan hanyalah
Jangan,
jangan!

ketika aku merebut kartu itu dari tangan-Nya. Nama-Nya jangan sampai ada
di kartu-kartu arsip itu. Namun demikian tanpa dapat kucegah, tertulis
di semua kartu itu nama-Nya dengan tinta merah, begitu jelas, dan begitu
hidup. Nama Yesus menutupi namaku. Kartu itu ditulisi dengan darah Yesus!
Ia dengan lembut mengambil kembali kartu-kartu arsip yang aku rebut tadi.
Ia tersenyum dengan sedih dan mulai menandatangani kartu-kartu itu. Aku
kira aku tidak akan pernah mengerti bagaimana Ia melakukannya dengan demikian
cepat, namun kemudian segera menyelesaikan kartu terakhir dan berjalan
mendekatiku. Ia menaruh tangan-Nya di pundakku dan berkata,
Sudah
selesai!

Aku bangkit berdiri, dan Ia menuntunku ke luar ruangan itu. Tidak ada kunci
di pintu ruangan itu. Masih ada kartu-kartu yang akan ditulis dalam sisa kehidupanku.


Karena begitu besar
kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang
tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan
beroleh hidup yang kekal.

(Yohanes 3:16)

Menjadi orang yang berpikir positif

July 10th, 2008 by cornell

Jerry
adalah seorang manager restoran di Amerika. Dia selalu dalam semangat
yang baik dan selalu punya hal positif untuk dikatakan. Jika seseorang
bertanya kepadanya tentang apa yang sedang dia kerjakan, dia akan
selalu menjawab, "Jika aku dapat yang lebih baik, aku lebih suka
menjadi orang kembar!"

Banyak pelayan di restorannya keluar jika Jerry pindah kerja,
sehingga mereka dapat tetap mengikutinya dari satu restoran ke restoran
yang lain. Alasan mengapa para pelayan restoran tersebut keluar
mengikuti Jerry adalah karena sikapnya.

Jerry adalah seorang motivator alami. jika karyawannya sedang
mengalami hari yang buruk, dia selalu ada di sana, memberitahu karyawan
tersebut bagaimana melihat sisi positif dari situasi yang tengah
dialami.

Melihat gaya tersebut benar-benar membuat aku penasaran, jadi suatu
hari aku temui Jerry dan bertanya padanya, "Aku tidak mengerti! Tidak
mungkin seseorang menjadi orang yang berpikiran positif sepanjang
waktu. Bagaimana kamu dapat melakukannya?" Jerry menjawab, "Tiap pagi
aku bangun dan berkata pada diriku, aku punya dua pilihan hari ini. Aku
dapat memilih untuk ada di dalam suasana yang baik atau memilih dalam
suasana yang jelek.

Aku selalu memilih dalam suasana yang baik. Tiap kali sesuatu
terjadi, aku dapat memilih untuk menjadi korban atau aku belajar dari
kejadian itu. Aku selalu memilih belajar dari hal itu. Setiap ada
sesorang menyampaikan keluhan, aku dapat memilih untuk menerima keluhan
mereka atau aku dapat mengambil sisi positifnya.Aku selalu memilih sisi
positifnya."

"Tetapi tidak selalu semudah itu," protesku. "Ya, memang begitu," kata Jerry.

" Hidup adalah sebuah pilihan. Saat kamu membuang seluruh masalah,
setiap keadaan adalah sebuah pilihan. Kamu memilih bagaimana bereaksi
terhadap semua keadaan. Kamu memilih bagaimana orang-orang di
sekelilingmu terpengaruh oleh keadaanmu. Kamu memilih untuk ada dalam
keadaan yang baik atau buruk. Itu adalah pilihanmu, bagaimana kamu
hidup."

Beberapa tahun kemudian, aku dengar Jerry mengalami musibah
yang tak pernah terpikirkan terjadi dalam bisnis restoran: membiarkan
pintu belakang tidak terkunci pada suatu pagi dan dirampok oleh tiga
orang bersenjata. Saat mencoba membuka brankas, tangannya gemetaran
karena gugup dan salah memutar nomor kombinasi. Para perampok panik dan
menembaknya. Untungnya, Jerry cepat ditemukan dan segera dibawa ke
rumah sakit.

Setelah menjalani operasi selama 18 jam dan seminggu perawatan
intensif, Jerry dapat meninggalkan rumah sakit dengan beberapa bagian
peluru masih berada di dalam tubuhnya. Aku melihat Jerry enam bulan
setelah musibah tersebut. Saat aku tanya Jerry bagaimana keadaannya,
dia menjawab, "Jika aku dapat yang lebih baik, aku lebih suka menjadi
orang kembar. Mau melihat bekas luka-lukaku?" Aku menunduk untuk
melihat luka-lukanya, tetapi aku masih juga bertanya apa yang dia
pikirkan saat terjadinya perampokan.

"Hal pertama yang terlintas dalam pikiranku adalah bahwa aku harus
mengunci pintu belakang," jawab Jerry. "Kemudian setelah mereka
menembak dan aku tergeletak di lantai, aku ingat bahwa aku punya dua
pilihan: aku dapat memilih untuk hidup atau mati. Aku memilih untuk
hidup."

"Apakah kamu tidak takut?" tanyaku. Jerry melanjutkan, "Para ahli
medisnya hebat. Mereka terus berkata bahwa aku akan sembuh. Tapi saat
mereka mendorongku ke ruang gawat darurat dan melihat ekspresi wajah
para dokter dan suster aku jadi takut. Mata mereka berkata ‘Orang ini
akan mati’. Aku tahu aku harus mengambil tindakan."

"Apa yang kamu lakukan?" tanya saya. "Disana ada suster gemuk yang
bertanya padaku," kata Jerry. "Dia bertanya apakah aku punya alergi.
‘Ya’ jawabku. Para dokter dan suster berhenti bekerja dan mereka
menunggu jawabanku. Aku menarik nafas dalam-dalam dan berteriak,
‘Peluru!’ Di tengah tertawa mereka aku katakan, ‘Aku memilih untuk
hidup. Tolong aku dioperasi sebagai orang hidup, bukan orang mati’."

Jerry dapat hidup karena keahlian para dokter, tetapi juga karena
sikapnya hidupnya yang mengagumkan. Aku belajar dari dia bahwa tiap
hari kamu dapat memilih apakah kamu akan menikmati hidupmu atau
membencinya. Satu hal yang benar-benar milikmu yang tidak bisa
dikontrol oleh orang lain adalah sikap hidupmu, sehingga jika kamu bisa
mengendalikannya dan segala hal dalam hidup akan jadi lebih mudah.

Cerita tentang tukang ledeng

June 26th, 2008 by cornell

Suatu
hari bos Mercedez Benz mempunyai masalah dengan kran air di rumahnya.
Kran itu selalu bocor hingga dia kawatir anaknya terpeleset jatuh.
Atas  rekomendasi seorang temannya, Mr. Benz menelpon seorang tukang
ledeng untuk memperbaiki kran miliknya. Perjanjian perbaikan ditentukan
2 hari kemudian karena si tukang ledeng rupanya cukup sibuk. Si tukang
ledeng sama sekali tidak tahu bahwa si penelpon adalah bos
pemilik perusahaan mobil terbesar di Jerman .

Satu
hari setelah ditelpon Mr.Benz, pak tukang ledeng menghubungi Mr.Benz
untuk menyampaikan terima kasih karena sudah bersedia menunggu satu
hari lagi. Bos Mercy-pun kagum atas pelayanan dan cara berbicara pak
tukang ledeng. Pada hari yang telah disepakati, si tukang ledeng datang
ke rumah Mr.Benz untuk memperbaiki kran yang bocor. Setelah kutak  sana kutak sini, kranpun selesai diperbaiki dan pak tukang ledeng pulang setelah menerima pembayaran atas jasanya.

Sekitar
2 minggu setelah hari itu, si tukang ledeng menghubungi Mr.Benz untuk
menanyakan apakah kran yang diperbaiki sudah benar-benar beres atau
masih timbul masalah? Mr. Benz berpikir pasti orang ini orang hebat
walaupun cuma tukang ledeng. Mr. Benz menjawab ditelepon bahwa kran dirumahnya sudah benar-benar beres dan mengucapkan terima kasih atas pelayanan pak tukang ledeng..

Tahukah anda
bahwa beberapa bulan kemudian Mr. Benz merekrut si tukang ledeng untuk
bekerja di perusahaannya? Ya, namanya Christopher L. Jr. Saat ini
beliau adalah General Manager Customer Satisfaction and Public Relation
di Mercedez Benz!

Jangan lupa dan aplikasikan dalam tingkah laku sehari hari :
1. Masukkan hanya informasi dan nasehat bergizi untuk  otak kita. Jangan pernah memberinya sampah.
2. Jangan sampai rasa takut mengalahkan kita. Hadapi dia face to face!
3. Tersenyumlah dengan tulus hingga gigi kita terlihat dan jadilah orang yang menyenangkan.
4. Selalu tambahkan keju dan pelayanan terbaik walaupun itu tidak diminta.

Mengapa berteriak?

June 17th, 2008 by cornell

Suatu
hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya, "Mengapa ketika
seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara
kuat atau berteriak?"

Seorang
murid setelah berpikir cukup lama mengangkat  tangan dan menjawab,
"Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia
lalu berteriak."

"Tapi…"
sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya justru berada di sampingnya.
Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"

Hampir
semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut
pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan.

Sang
guru lalu berkata, "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi
kemarahan, jarak antara kedua hati mereka menjadi amat jauh walau
secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang
demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka
berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya
jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi.
Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi."

Sang
guru masih melanjutkan, "Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang
saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika
mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan
kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu
jelas. Mengapa demikian?"

Sang
guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak
berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban.

"Karena
hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya
sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah
cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."

Sang
guru masih melanjutkan, "Ketika anda sedang dilanda kemarahan,
janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak
mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di
saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang
bijaksana. Karena waktu akan membantu anda."

Telaga Hati

June 3rd, 2008 by cornell

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang
bijak. Pada suatu pagi, datanglah
seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah.
Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Pemuda itu, memang tampak seperti
orang yang tak bahagia. Pemuda itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang
bijak mendengarkan dengan seksama. Beliau lalu mengambil segenggam garam dan
segelas air. Dimasukkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduk perlahan.

"Coba, minum ini, dan katakan bagaimana
rasanya," ujar Pak tua itu.

"Asin. Asin sekali," jawab sang tamu, sambil
meludah ke samping.

Pak Tua tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Beliau lalu
mengajak sang pemuda ke tepi telaga di dekat tempat tinggal Beliau.
Sesampai di tepi telaga, Pak Tua menaburkan segenggam
garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, diaduknya air telaga itu.

"Coba, ambil air dari telaga ini dan minumlah."
Saat pemuda itu selesai mereguk air itu, Beliau bertanya, "Bagaimana rasanya?"
"Segar," sahut sang pemuda.
"Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?"
tanya Beliau lagi.

"Tidak," jawab si anak muda.

Dengan lembut Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda.
"Anak muda, dengarlah.
Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam tadi,
tak lebih dan tak kurang. Jumlah garam yang kutaburkan sama, tetapi rasa air
yang kau rasakan berbeda. Demikian pula kepahitan akan kegagalan yang kita
rasakan dalam hidup ini, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki.

Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan
segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu
merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada
satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya.
Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."

Beliau melanjutkan nasehatnya.
"Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."

Kisah Pohon Apel

June 3rd, 2008 by cornell

Suatu
ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang
senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan
buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya.

Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu.

Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu.

Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi
bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi
pohon apel.

Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi
denganku," pinta pohon apel itu. "Aku bukan anak kecil yang
bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu.

"Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya
uang untuk membelinya."

Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya
uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa
mendapatkan uang  untuk membeli mainan kegemaranmu. "

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah
apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu
anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi.

Pohon apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo
bermain-main denganku lagi," kata pohon apel. "Aku tak punya
waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku.
Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"


"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh
menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel.
Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting
pohon apel itu dan pergi dengan gembira.

Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu
senang, tapi
anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel
itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon
apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.

"Ayo bermain-main lagi deganku," kata pohon
apel.

"Aku sedih," kata anak lelaki itu.

"Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin
pergi berlibur dan
berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk
pesiar?"


"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh
memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau.
Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah."

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu
dan membuat kapal yang diidamkannya.

Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui
pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah
bertahun-tahun kemudian.

"Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku
sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."


"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit
buah apelmu,"
jawab anak lelaki itu.


"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau
panjat," kata pohon apel.


"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,"
jawab anak lelaki itu.

"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa
aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan
sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.


"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata
anak lelaki.


"Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku
sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."


"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua
adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring
di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."


Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.

Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil
meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua.

Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan
ibu kita.

Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan
hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.

Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana
untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan
untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa
anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi
begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

ProsesNYA indah

June 3rd, 2008 by cornell

Kadang
kita bertanya dalam hati & menyalahkan Tuhan, "apa yg telah saya
lakukan sampai saya harus mengalami ini semua ?" atau "kenapa Tuhan
membiarkan ini semua terjadi pada saya ?"

Here
is a wonderful explanation. ..

Seorang anak memberitahu ibunya kalau segala sesuatu tidak berjalan seperti yang dia harapkan.

Dia mendapatkan nilai jelek dalam raport, putus dengan pacarnya, dan sahabat terbaiknya pindah ke luar kota.

Saat
itu ibunya sedang membuat kue, dan menawarkan apakah anaknya mau
mencicipinya, dengan senang hati dia berkata, "Tentu saja, I love your
cake."

"Nih, cicipi mentega ini," kata Ibunya menawarkan. "Yaiks," ujar anaknya.

"Bagaimana dgn telur mentah ?"

"You’re kidding me, Mom."

"Mau coba tepung terigu atau baking soda ?"

"Mom, semua itu menjijikkan. "

Lalu Ibunya menjawab, "ya, semua itu memang kelihatannya tidak enak jika dilihat dan dirasakan satu per satu.

Tapi jika dicampur jadi satu melalui satu proses yang benar, mulai pencampuran bahan kue
sampai kue masuk oven, akan menjadi kue yang enak."

Tuhan bekerja dengan cara yang sama.

Seringkali kita bertanya kenapa Dia membiarkan kita melalui masa-masa yang sulit dan tidak menyenangkan.

Tapi
Tuhan tahu, jika Dia membiarkan semuanya terjadi satu per satu sesuai
dgn rancanganNya, segala sesuatunya akan menjadi sempurna tepat pada
waktunya.

Kita hanya perlu percaya proses ini diperlukan untuk menyempurnakan hidup
kita.

Tuhan
teramat sangat mencintai kita semua . Dia mengirimkan bunga setiap
musim semi, sinar matahari setiap pagi dan hembusan udara yang mengalir
setiap saat.

Tanpa diminta,Dia berikan semuanya dengan sukarela.

Setiap
saat kita ingin bicara, Dia akan mendengarkan. Dia ada setiap saat kita
membutuhkanNya, Dia ada di setiap tempat, dan Dia memilih untuk berdiam
di hati kita.

Apakah kau Yesus..???

May 14th, 2008 by cornell

"Apakah Engkau Yesus?"
Oleh: Tidak Diketahui
Terjemahkah: Azallea Lesmana
Kiriman: Azallea Lesmana

Beberapa tahun yang lalu, sekelompok salesmen menghadiri pertemuan sales di Chicago. Mereka telah meyakinkan istri-istri mereka bahwa mereka akan
mempunyai cukup waktu untuk makan malam bersama di rumah pada hari
Jumat. Namun, manager sales menghabiskan lebih banyak waktu daripada
yang telah diperkirakan dan pertemuan berakhir lebih lambat daripada
yang telah dijadwalkan. Akibatnya, dengan tiket pesawat dan tas mereka
di tangan, mereka berlari menerobos pintu airport, tergesa-gesa,
mengejar penerbangan mereka pulang.


Ketika
mereka sedang berlari-lari, salah satu dari para salesman ini tidak
sengaja menendang sebuah meja yang digunakan untuk menjual apel. Dan
apel-apel itu beterbangan. Tanpa berhenti atau menoleh ke belakang,
mereka semua akhirnya berhasil masuk ke dalam pesawat dalam detik-detik
terakhir pesawat itu tinggal landas.


Semua,
kecuali satu. Dia berhenti, menghela napas panjang, bergumul dengan
perasaannya lalu tiba-tiba rasa kasihan menyelimuti dirinya untuk gadis
yang menjual apel. Ia berkata kepada rekan-rekannya untuk pergi tanpa
dirinya, melambaikan tangan, meminta salah satu temannya untuk menelpon
istrinya ketika mereka sampai di tempat tujuan untuk memberitahukan
bahwa IA akan mengambil penerbangan yang berikutnya.
Kemudian ia kembali ke pintu terminal yang berceceran dengan banyak sekali buah apel di lantai.

 

Salesman ini merasa lega ketika ia tiba disana. Gadis
yang berumur 16 tahun ini buta! Gadis tersebut sedang menangis
sesegukan, air matanya mengalir turun di pipinya, Dan gadis itu sedang
berusaha untuk meraih buah-buah apel yang bertebaran di antara
kerumunan orang-orang yang bersliweran di sekitarnya, tanpa seorang pun
berhenti, atau pun cukup peduli untuk membantunya.

 

Salesman ituberlutut
di lantai di sampingnya, mengumpulkan apel-apel tersebut, menaruhnya
kembali ke dalam keranjang dan membantu memajangnya di meja
seperti semula. Seketika itu, ia menyadari bahwa banyak dari apel-apel
itu rusak, dan ia mengesampingkan apel yang rusak ke dalam keranjang
yang lain.

 

Setelah
selesai, pria ini mengeluarkan uang dari dompetnya dan berkata kepada
si gadis penjual, "Ini, ambillah $20 untuk semua kerusakan ini.
Apakah kau tidak apa-apa?"

 

Gadis itu mengangguk, masih berlinang air mata.

 

Pria itu melanjutkan dengan, "Saya harap Kita tidak merusak harimu begitu parah."

 

Ketika pria ini mulai beranjak pergi, gadis penjual yang buta ini memanggilnya, "Tuan…"

 

Pria ini berhenti dan menoleh ke belakang untuk menatap kedua matanya yang buta.

 

Gadis ini melanjutkan, "Apakah engkau Yesus?"

 

Ia
terpana. Kemudian, dengan langkah yang lambat ia berjalan masuk untuk
mengejar penerbangan berikutnya. Dan pertanyaan itu terus menerus
berbicara di dalam hatinya, "Apakah kau Yesus?"

 

Apakah
orang-orang mengira engkau Yesus? Bukankah itu tujuan hidup kita? Untuk
menjadi serupa dengan Yesus sehingga orang-orang tidak dapat melihat
perbedaannya ketika kita hidup dan berinteraksi di dalam dunia yang
buta dan tidak mampu melihat kasih, anugrah dan kehidupanNya… Jika
kita mengakui bahwa kita mengenal Dia, kita harus hidup, berjalan, dan
bertindak seperti Yesus. Mengenal Yesus adalah lebih dalam daripada
hanya sekedar mengutip kata-kata dari Alkitab dan pergi beribadah di
gereja. Mengenal Yesus adalah menghidupi FirmanNya Hari demi Hari. Anda
adalah seperti buah apel tersebut di mata Allah meskipun kita rusak dan
menjadi cacat ketika kita terjatuh. Allah berhenti mengerjakan apa yang
sedang Ia kerjakan, mengangkat Anda dan saya ke suatu bukit yang
bernama Kalvari dan membayar penuh semua kerusakan kita. Mari mulai
jalani hidup sesuai dengan harga yang telah dibayarkanNya.

What A Needle Can Do?

April 23rd, 2008 by cornell

Image001_1

1 Korintus 12:24-25
Hal
itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah
menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang
tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi
perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu
saling memperhatikan.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 107; Lukas 19; Hakim-Hakim 1-2

Karena keterbatasan mata, mudah sekali bagi kita untuk melihat apa yang tampak wah
di permukaan. Seorang nabi seperti Samuel pun masih melihat penampilan
luar saat hendak mengurapi raja baru pengganti Saul. Maka TUHAN
berfirman padanya untuk tidak melihat apa yang tampak mata, perawakan
tinggi atau baik parasnya. Sementara manusia suka melihat apa yang
terlihat wah di depan mata pada kesan pertama, tapi TUHAN tidak. Seseorang pernah menuliskan demikian :

Jangan
memandang rendah orang kecil, saat Anda bertemu raksasa yang hebat.
Saat Anda membutuhkan jarum, apa yang pedang dapat lakukan?

Di
sini ia menekankan betapa salahnya jika memiliki anggapan bahwa hanya
hal-hal yang tampak hebat saja yang punya kegunaan, padahal setiap
ciptaan juga memiliki fungsi yag krusial di waktu dan kondisi tertentu.

Memandang yang besar membuat kita melewatkan yang jecil. Melihat
yang kaya membuat kita melupakan yang kurang beruntung. Lihatlah ke
sekeliling, apakah dalam hal tertentu kita lebih suka menghargai orang
tertentu saja? Pimpinan tentu orang yang harus dihargai, tapi bagaimana
dengan bawahan Anda? Office boy,
satpam atau tukang jual makanan di kantor Anda? Jangan lewatkan mereka.
Bagikan juga perhatian pada setiap mereka yang kelihatan biasa-biasa
saja. Mari kita belajar berpikir seperti Allah. Semua ciptaan-Nya unik
dan baik.

Tidak ada ciptaan Tuhan yang biasa-biasa saja, semuanya luar biasa.

5 Minute Management Course

April 22nd, 2008 by cornell

Lesson 1:

A man is getting into the shower just as his wife is finishing up  her  shower, when the doorbell rings..
The wife quickly wraps herself  in a towel and runs downstairs. 
When she opens the door, there  stands Bob , the next-door neighbour. 
Before she says a word, Bob  says, ‘I’ll give you $800 to drop that  towel.’
After
thinking for a moment, the woman drops her towel and stands naked in
front of Bob , after a few seconds, Bob hands her $800 and leaves.
The woman wraps back up in the towel and goes back upstairs.   
When  she gets to the bathroom, her husband asks, ‘Who was that?’   
‘It  was Bob the next door neighbour,’ she replies.   
‘Great,’  the husband says, ‘did he say anything about the $800  he owes  me?’

Moral of the story:
If
you share critical information pertaining to credit and risk with your
shareholders in time, you may be in a position to prevent avoidable
exposure.

Lesson 2:

A   priest offered a Nun a lift.
She  got in and crossed her legs,  forcing her gown to reveal a leg. 
The  priest nearly had an  accident.
After  controlling the car, he stealthily slid his hand  up her leg. 
The  nun said, ‘Father, remember Psalm 129?’ 
The  priest removed his hand. But, changing gears, he let his  hand  slide up her leg again.
The  nun once again said, ‘Father,  remember Psalm 129?’ 
The  priest apologized ‘Sorry sister but the  flesh is weak.’ 
Arriving  at the convent, the nun sighed heavily  and went on her way. 
On
his arrival at the church, the priest rushed to look up Psalm 129. It
said, ‘Go forth and seek, further up, you will find glory.’

Moral   of the story:
If   you are not well informed in your job, you might miss a great  opportunity.

Lesson 3:

A  sales rep, an administration clerk, and the manager are walking  to lunch  when they find an antique oil lamp. 
They  rub it and a Genie  comes out.
The  Genie says, ‘I’ll give each of you just one wish.’   
‘Me
first! Me first!’ says the admin clerk. ‘I want to be in the Bahamas ,
driving a speedboat, without a care in the world.’
Puff!  She’s gone.
‘Me
next! Me next!’ says the sales rep. ‘I want to be in Hawaii , relaxing
on the beach with my personal masseuse, an endless supply of Pina
Coladas and the love of my life.’
Puff!  He’s gone.
‘OK,  you’re up,’  the Genie says to the manager. 
The  manager says, ‘I want those two  back in the office after lunch.’ 

Moral of the story:
Always let your boss have the first say.

Lesson 4:

An eagle was sitting on a tree resting, doing nothing. 
A small rabbit saw the eagle and asked him, ‘Can I also sit like  you and do  nothing?’
The eagle answered: ‘Sure, why  not.’
So,
the rabbit sat on the ground below the eagle and rested. All of a
sudden, a fox appeared, jumped on the rabbit and ate it.

Moral of the story:
To be sitting and doing nothing, you must be sitting very, very high up. 

Lesson 5:

A turkey was chatting with a bull.
‘I would love to be able to get  to the top of that tree’ sighed the  turkey, ‘but I haven’t got the  energy.’
‘Well, why don’t you nibble on some of my droppings?’  replied the bull.  They’re packed with nutrients.’
The turkey pecked at a lump of dung, and found it actually gave him  enough str  ength to reach the lowest branch of the tree. 
The next day, after eating some more dung, he reached the second  branch. 
Finally after a fourth night, the turkey was proudly perched at  the top  of the tree.
He was promptly spotted by a farmer, who  shot him out of the tree. 

Moral of the story:
Bull Shit might get you to the top, but it won’t keep you   there..

Lesson 6:

A little bird was flying south for the winter. It was so cold the  bird  froze and fell to the ground into a large field. 
While  he was  lying there, a cow came by and dropped some dung on him. 
As  the  frozen bird lay there in the pile of cow dung, he began to  realize how  warm he was.
The  dung was actually thawing him out!
He lay there all warm and happy, and soon began to sing for joy. 
A passing cat heard the bird singing and came to investigate.
Following the sound, the cat discovered the bird under the pile of cow  dung, and  promptly dug him out and ate him. 

Morals of the story:
(1)  Not everyone who shits on you is your enemy. 
(2)  Not everyone who gets you out of shit is your friend. 
(3)  And when you’re in deep shit, it’s best to keep your mouth shut!